Pendidikan
apakah memang penting? Pasti semua orang akan memiliki jawaban yang sama bahwa
pendidikan sangat penting yang harus ditempuh dan dirasakan oleh semua orang, karena
melalui pendidikan seseorang mampu membentuk jati dirinya sesuai dengan minat
dan bakatnya. Apakah orang tersebut berkualitas atau tidak, sehingga tidaklah
asing jika manusia yang berpendidikan pastinya manusia yang memiliki kemampuan
dalam berfikir dan bersikap kepada tuhan dan sesame secara baik. Maka dari itu,
pemerintah kita setiap waktu selalu mengevaluasi berbagai kebijakan terhadap pendidikan
di Indonesia sebagai wujud dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan
mandiri.
Pendidikan
sendiri bisa diartikan sebagai usaha sadar dan terencana dalam melakukan
kegiatan proses belajar dan mengajar sebagai bentuk menambah pengetahuan dan
keahlian dengan melibatkan dua pihak, yakni pendidik dan peserta didik. Dari
definisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan harus dilakukan secara sadar dan
terencana, tidak bisa asal-asalan. Selain itu, pendidikan juga akan melibatkan
dua pihak (pendidik dan peserta didik) yang mana seorang pendidik akan
mentransformasikan pengetahuan dan pengalamannya kepada peserta didik supaya
bisa memahami suatu ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pendidikan khususnya di
Indonesia memiliki peran yang sangat penting bagi setiap orang untuk
meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam mengolah dan menjaga berbagai
sumber daya yang kita miliki sekarang ini.
Berbicara
pendidikan di negara kita tercinta ini, apakah Indonesia sudah berhasil dalam
mengembangkan pendidikannya? Hanya kita sendiri yang bisa menjawab, pemerintah
setiap waktu sudah berusaha semaksimal mungkin dalam memberikan kebijakan dan
mengevaluasi proses pendidikan yang sudah berlaku. Hal ini dibuktikan dari
adanya kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah, mulai dari kurikulum KBK,
KTSP, Kurikulum 2013, dan akhirnya sekarang kembali lagi ke kurikulum KTSP
sebagai wujud persiapan dari masing-masing lembaga pendidikan untuk menerapkan
Kurikulum Nasional. Masing-masing kurikulum pastinya bertujuan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa melalui para peserta didik agar berpengatahuan yang luas,
berakhlak baik, dan memiliki keterampilan yang sesusai dengan minat dan
bakatnya, hanya saja yang membedakan yakni dalam teknis pelaksanaan
pembelajarannya.
Negara
Indonesia yang kaya dengan berbagai sumber daya harus dimanfaatkan secara
optimal, salah satu sumber daya yang sangat berharga adalah budaya bangsa.
Indonesia yang terkenal dengan negara maritim menjadikan negara ini memiliki
beribu-ribu budaya di setiap masing-masing daerahnya. Inilah kekayaan yang tak
ternilai dan harus dilestarikan oleh generasi penerus bangsa. Melalui
pendidikan, pemerintah juga telah memberikan kesempatan di setiap lembaga
pendidikan untuk memberikan materi muatan lokal yang bertujuan untuk mengajarkan
kepada peserta didik dalam mengembangkan potensi lokal sekaligus menjaga
kelestarian budayanya. Budaya bangsa adalah budaya di setiap daerah di
Indonesia tanpa memandang budaya tersebut berasal dari suku, ras, maupun agama.
Sistem
pendidikan di Indonesia sudah dirancang dengan baik, tetapi sampai saat ini
berbagai masalah masih sering kita temui di tengah-tengah masyarakat dan bahkan
para politikus yang memiliki kecerdasan tinggi. Apakah ada yang salah dengan
negeri ini? Negeri koruptor dan lahan penjajah bagi masyarakat luar. Pemerintah
yang menjadi wakil rakyat pun sudah terbiasa menjadi tikus berdasi yang membawa
uang rakyat untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Selain itu, sesuai
dengan perkembangan zaman yang semakin modern telah merusak jati diri atau
kepribadian generasi bangsa. Hal ini bisa kita lihat degradasi moral yang
dialami oleh para pemuda dan pelajar, berbagai kasus setiap harinya termuat di
berbagai media cetak dan elektronik, mulai dari kasus pemerkosaan, perampokan,
pembunuhan, tawuran dan tindakan asusila lainnya. Inilah bukti bahwa degradasi
moral yang menjangkit para pelajar Indonesia dan khususnya lagi budaya lokal
sudah mulai tergeser dengan budaya kebarat-baratan.
Dari
permasalahan di atas, harus ada solusi yang cepat dan tepat dalam memperbaiki
moral pelajar dan melestarikan budaya lokal di setiap daerah di Indonesia.
Lembaga pendidikan formal sudah sering kita jumpai dan dalam pelaksanaannya
juga sudah sesuai dengan rambu-rambu dari pemerintah yang termuat dalam kurikulum.
Akan tetapi, lembaga pendidikan non-formal juga harus dikembangkan semaksimal
mungkin sebagai wujud melaksanakan pendidikan secara utuh. Contohnya adalah
Bali, provinsi yang hanya terdiri dari delapan kabupaten dan satu kotamadya telah
mampu menunjukkan eksistensinya dalam melestarikan budaya melalui pendidikan
yang berkebudayaan. Daerah yang terkenal dengan seribu pura dan kaya keindahan
alamnya tidak asing di mata dunia. Wisatawan dari berbagai penjuru dunia setiap
harinya berlibur ke Bali untuk menikmati keindahan alam dan mengeksplorasi
berbagai budaya yang ada di Bali.
Eksistensi
Bali pastinya tidak terlepas dari adanya peran lembaga pendidikan. Betapa
tidak, seandainya saja masyarakat Bali tidak berpendidikan pastinya akan mudah
terjerumus untuk mengikuti budaya barat yang dibawa oleh wisatawan asing. Akan
tetapi kenapa sampai saat ini Bali masih mampu bertahan dengan berbagai budaya
lokalnya? Kita sebagai generasi penerus harus bisa mempelajarinya. Di Bali bukan
hanya sekolah dan belajar privat yang
menjadi tempat belajar siswa, tetapi
yang sangat diprioritaskan di Bali adalah pendidikan berbasis kearifan lokal
yang dilaksanakan dalam model pasraman
di setiap masing-masing desa adat. Pasraman
ini bertujuan sebagai tempat pembelajaran anak didik dalam berbagai bidang
dan khususnya berkaitan dengan budaya Bali. Pasraman
sendiri bisa diartikan sebagai tempat dan model pembelajaran siswa Bali
yang bersifat non-formal dengan menggunakan sistem awig-awig krama desa setempat dalam mengembangkan mutu siswa dan
menjaga budaya daerahnya.
Pasraman di setiap desa yang ada di Bali pastinya selalu
dijalankan sesuai dengan aturan desa setempat, kegiatannya juga dilakukan di
luar jam sekolah siswa sebagai bentuk pembelajaran tambahan. Dalam kegiatannya,
pasraman ini dipimpin oleh seseorang
yang ditunjuk oleh masyarakat setempat untuk mengelola proses pembelajaran di pasraman. Kegiatan-kegiatan pembelajaran
yang dilakukan bukan hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan saja, tetapi
pengetahuan tentang budaya lokal secara khususnya. Pengetahuan budaya lokal
seperti, mekidung (belajar
menyanyikan sastra bali sebagai wujud untuk mengiri masyarakat hindu pada saat
bersembahyang), mejejahitan (belajar
membuat alat-alat persembahyangan
seperti, canag, bokor, banten, dan tipat), dan menari Bali.
Kegiatan
pasraman sendiri pastinya akan
diikuti oleh seluruh pelajar yang ada di desa tersebut, karena sesuai dengan awig-awig krama desa bahwa setiap
pelajar yang berada di desa setempat harus mengikuti kegiatan pasraman dengan baik. Apabila tidak mau
aktif dalam kegiatan pasraman sanksi
moral juga sudah ditetapkan sesuai dengan hukum adat setempat. Maka dari itu, pasraman memiliki peran yang sangat
penting bagi generasi muda yang ada di Bali untuk membentuk karakter yang
berkualitas dan pastinya akan selalu menjaga kelestarian budaya lokalnya.
Selain dengan adanya peraturan hukum adat setempat, pasraman bagi masyarakat Bali yang beragama hindu hukumnya wajib
untuk diikuti dengan baik, karena kegiatan yang ada di dalamnya sebagai bentuk darma (berbuat kebajikan) sesuai ajaran
agamanya. Akan tetapi bagi pelajar non-hindu juga bisa mengikuti kegiatan
pembelajaran di pasraman tersebut,
melainkan mengikuti pembelajaran yang berkaitan dengan mata pelajaran di
sekolah.
Dalam
perkembangannya, pasraman sudah mampu
memberikan manfaat yang sangat besar bagi generasi muda di Bali yang khususnya dalam
menjaga budaya lokalnya. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan zaman, pihak
pemerintah Bali dan masing-masing pengurus pasraman
harus memberikan terobosan-terobosan yang bersifat inovatif dalam mengembangkan
kegiatan masing-masing pasraman. Meski
masih kental dengan budaya dan adat setempat, tetapi kegiatan pasraman juga harus dikolaborasikan
dengan perkembangan zaman yang semakin modern, seperti dalam memberikan
pelajaran mejejahitan dan tarian Bali
dengan penggunaan teknologi yang terbarukan. Selain itu agar supaya kegiatan pasraman tidak monoton, maka dibuatkan
agenda dengan diadakannya lomba antar pasraman
sebagai bentuk apresiasi kepada pelajar pasraman
atas prestasinya. Maka dari itu, pasraman
di Bali juga harus selalu diperhatikan dan dikembangkan sesuai dengan filosofi
agama hindu, yakni Tri Hita Karana
yang selalu memperhatikan ketiga kunci kehidupan, parahyangan (manusia berhubungan dengan tuhan), palemahan (manusia berhubungan dengan
manusia), dan pawongan (manusia
berhubungan dengan lingkungan).
Dari strategi pendidikan berbasis pasraman di atas, maka pendidikan di
Indonesia dan khususnya di Bali akan mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan
berkearifan lokal pastinya. Selain itu juga harus selalu diberikan
inovasi-inovasi dalam memajukan pasraman
untuk mewujudkan pendidikan lokal yang lebih baik lagi. Meski pasraman berbasikan dengan filosofi
masyarakat hindu, tetapi di setiap daerah yang non-hindu bisa menerapkan sistem
pendidikan yang berbasis kearifan lokal dengan memadukan hukum atau aturan yang
sesuai dengan ajaran agamanya. Sudah saatnya Negara Indonesia menduduki kursi
raja asia di era pasar bebas.
0 komentar:
Post a Comment