Wednesday, October 26, 2016

G-PAIN : GERAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS KEBANGSAAN SEBAGAI WUJUD PENANAMAN NILAI PLURALISME BAGI PEMUDA ISLAM INDONESIA

Berbicara mengenai pendidikan pastinya tidak akan ada habisnya, apalagi membahas pendidikan di Indonesia sebagai negara yang multikultural. Negara yang terdiri dari berbagai suku, budaya, ras dan agama pastinya akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Sehingga dari hal ini dalam merencanakan pendidikan harus benar-benar diperhatikan dengan baik agar mampu menghasilkan output pelajar yang berkualitas dan bertoleransi yang tinggi. Kenapa pendidikan harus diperhatikan dengan melihat keragaman budaya yang ada di Indonesia? Pendidikan sangatlah penting untuk diperhatikan oleh setiap kalangan masyarakat, apalagi dalam mewujudkan nilai-nilai keindonesiaan dalam berkehidupan yang penuh toleransi antar sesama. Tidak ada toleransi, maka perang dunia ketiga bisa terjadi, inilah pentingnya pendidikan dalam mewujudkan hidup saling bertoleransi antar sesama.
Dilihat dari demografi Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2014 lebih dari 237 juta jiwa dengan jumlah penduduk yang memeluk agama islam lebih dari 90% dari jumlah keseluruhan penduduknya. Presentasi yang sekian banyak itu bukan berarti masyarakat muslim berhak untuk mengucilkan masyarakat yang memeluk agama lain, karena Indonesia sejatinya berdiri dari nilai-nilai sejarah yang terbingkai dalam persatuan dan kesatuan dalam menegakkan kemerdekaan yang hakiki. Berkaitan dengan pendidikan, pastinya banyak para pelajar yang menempuh pendidikan agama islam baik di sekolah maupun perguruan tinggi. Pendidikan agama islam ini selain bertujuan untuk membentuk karakter pelajar yang islami juga membentuk identitas pelajar islam yang menyangi antar sesama pemeluk agama lain. Akan tetapi, kalau kita lihat fenomena sekarang ini justru banyak sekali kasus-kasus pelajar yang tidak seharusnya dilakukan oleh pelajar islam. Bisa diambil contoh dalam Harianpati.com dengan adanya tawuran antar siswa SMK Tunas Harapan Pati Jateng dengan SMK Nasional Pati. Mereka kebanyakan pelajar beragama islam, tetapi entah kenapa bisa terjadi kejadian yang tidak seharusnya dilakukan. Kasus yang ekstrem lagi yang termuat dalam berita Kompas.com adanya Bom Bali 1 dan 2 yang dilakukan oleh para jihadis yang berfikiran berjuang untuk mendirikan hukum islam di Indonesia. Justru dampak dari adanya pengeboman ini menimbulkan perselisihan antar umat beragama, karena dianggap ajaran agama islam harus membunuh orang yang tidak sefaham dengannya. Inilah wujud kemunduran dalam memahami pendidikan agama islam.
Berbagai gejolak yang ada harus benar-benar diperhatikan, lalu bagaimana perkembangan pendidikan agama islam sekarang ini? Inovasi apa yang harus diterapkan dalam membentuk karakter pelajar yang islami dan berkebangsaan? Seiring dengan perkembangan zaman, kita tidak bisa memungkiri dengan adanya model pembelajaran agama islam nusantara. Pendidikan agama islam nusantara yakni pembelajaran tentang nilai-nilai islam yang berada di nusantara. Selain itu pembelajaran ini juga tidak melepas identitas keindonesiaannya selama masih sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini sangat diperlukan mengingat keberadaan Indonesia sebagai negara yang multikultural. Menegakkan agama islam itu harus sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu masyarakat juga harus hidup di tengah-tengah masyarakat dengan kepercayaan yang berbeda-beda. Maka pembelajaran pendidikan agama islam nusantara sebagai bentuk solusi dalam mengembangkan nilai-nilai keislaman yang berkebangsaan, karena pendidikan agama islam nantinya akan diakulturasikan dengan nilai-nilai budaya Indonesia yang ada selama ini.
Dalam mewujudkan model pembelajaran ini ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Langkah pertama, lembaga pendidikan formal harus ada ikatan kerjasama yang saling menguntungkan dengan lembaga pendidikan non-formal, seperti pondok pesantren atau majlis ta’lim. Kerjasama ini sebagai bentuk penanaman nilai-nilai agama islam yang sesuai dengan kebudayaan setempat, karena pembelajaran di pondok pesantren atau majlim ta’lim pastinya memperdalam ilmu-ilmu agama yang menggunakan literatul dari kitab kuning yang bukan kitab terjemahan. Sehingga dengan adanya literatul yang lebih autentik ini akan menunjukkan pemahaman yang sebenarnya tentang nilai-nilai ajaran islam yang ada. Kita perhatikan kandungan Q.S. Al-Kafirun ayat 6, ayat tersebut sudah sangat jelas bahwa “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”. Jadi tidak ada larangan dalam memeluk agama dan kepercayaan serta tidak ada pula saling berselisih antar umat beragama. Maka dengan adanya kerjasama antara lembaga pendidikan formal dan non-formal diharapkan akan mempermudah dalam mengembangkan pemeblajaran pendidikan agama islam yang berkebangsaan.
Langkah yang kedua adalah penerapan proses pembelajaran agama islam yang bersifat kontekstual. Dalam pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah maupun perguruan tinggi, seorang pengajar harus mampu mengasosiasikan nilai-nilai agama islam dengan nilai-nilai budaya Indonesia secara kontekstual. Salah satu contoh kecil dengan adanya pendidikan pancasila dan pendidikan kepramukaan, kedua pendidikan ini ketika difahami secara mendalam tidak ada nilai-nilai yang melenceng dengan ajaran agama islam. Seperti sila ketiga dari Pancasila yakni “Persatuan Indonesia” yang dihubungkan dengan Dasa Dharma Pramuka yang kedua “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia” dan dengan nilai-nilai ajaran islam yang ada, pastinya ketiga nilai ajaran tersebut memiliki esensi yang sama bahwa sesama manusia itu harus saling bersatu dan saling mengasihi. Hal ini sudah diterapkan oleh Rasulullah SAW dalam masa hidupnya, beliau tidak pernah menanamkan rasa benci terhadap orang-orang kafir meskipun mereka selalu menyakiti dan menghalangi beliau dalam menyiarkan agama islam.
Langkah yang ketiga adalah penanaman nilai-nilai sejarah Indonesia. Hal ini dapat diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama islam berbasiskan nilai-nilai sejarah Indonesia. Bagaimana langkah-langkah dalam beribadah kepada Allah tanpa memandang sisi lain dari orang di sekitarnya. Sering kita lihat kasus-kasus radikalisme yang terjadi di Indonesia, bahkan ironisnya banyak sekali para mahasiswa yang disebut sebagai agen perubahan masyarakat yang tidak lagi cinta dengan tanah airnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya gerakan-gerakan anti pancasila dan NKRI, lalu dengan adanya gerakan radikalisme apakah nantinya akan menjadikan Indonesia yang berdaulat dan makmur? Secara pasti tidak akan terwujud Indonesia yang berdaulat, justru yang terjadi akan adanya peselisihan antar umat beragama yang berujung perang agama. Sejarah-sejarah pendirian negara Indonesia juga harus diajarkan dalam pendidikan agama islam, agar supaya para pelajar selain menerapkan nilai-nilai yang islami juga selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa melalui kisah para pahlawan terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Langkah yang keempat adalah menciptakan gerakan-gerakan sosial sebagai wujud praktik lapangan dari pembelajaran agama islam itu sendiri. Ketika kita memahami pelajaran agama islam pastinya akan bermuara dengan kehidupan di dunia dan di akhirat. Akan tetapi, pembelajaran agama islam yang ada di sekolah masih banyak yang dkembangkan dari segi pemahamannya saja, tetapi dari segi mempraktikkan nilai-nilai yang terkandung masih belum maksimal. Bisa diambil contoh dalam lingkungan sekolah pastinya ada kegiatan sosial yang bertujuan untuk membentuk karakter siswa. Maka dari itu, dalam pendidikan agama islam kegiatan-kegiatan sosial juga harus dilaksanakan secara rutin. Kegiatan yang dimaksud disini bukan berarti kegiatan yang harus mengeluarkan biaya yang besar, tetapi kegiatan sosial dapat dilakukan seperti adanya kerja bakti di dalam dan di luar lingkungan sekolah, menyantuni orang miskin, bersembahyang bersama sesuai dengan ajaran yang diyakininya, dan pastinya selalu mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Dari keempat langkah tersebut sebagai wujud membentuk karakter pelajar yang islami dan pastinya bernilai kebangsaan. Dengan adanya gerakan pendidikan agama islam nusantara diharapkan akan memberikan gambaran dan pemahaman terhadap pelajar dan pemuda bahwa dalam menerapkan nilai-nilai ajaran islam bukan hanya berhubungan dengan Allah saja, melainkan berperilaku dengan sesama dan pelestarian lingkungan sekitar juga sebagai wujud penerapan nilai-nilai ajaran agama islam yang harus diterapkan pula. Maka tidak salah dengan adanya pendidikan islam nusantara, pendidikan yang tidak berarti meninggalkan nilai-nilai ajaran islam yang sesuai dengan kandungan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Akan tetapi pendidikan agama islam yang dikolaborasikan dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia tanpa melencengkan maksud yang terkandung dalam perintah Allah semata.

0 komentar:

Post a Comment