Berbicara
mengenai pendidikan pastinya tidak akan ada habisnya, apalagi membahas
pendidikan di Indonesia sebagai negara yang multikultural. Negara yang terdiri
dari berbagai suku, budaya, ras dan agama pastinya akan memiliki karakteristik
yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Sehingga dari hal ini dalam merencanakan
pendidikan harus benar-benar diperhatikan dengan baik agar mampu menghasilkan
output pelajar yang berkualitas dan bertoleransi yang tinggi. Kenapa pendidikan
harus diperhatikan dengan melihat keragaman budaya yang ada di Indonesia?
Pendidikan sangatlah penting untuk diperhatikan oleh setiap kalangan
masyarakat, apalagi dalam mewujudkan nilai-nilai keindonesiaan dalam
berkehidupan yang penuh toleransi antar sesama. Tidak ada toleransi, maka
perang dunia ketiga bisa terjadi, inilah pentingnya pendidikan dalam mewujudkan
hidup saling bertoleransi antar sesama.
Dilihat
dari demografi Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah
penduduk Indonesia pada tahun 2014 lebih dari 237 juta jiwa dengan jumlah
penduduk yang memeluk agama islam lebih dari 90% dari jumlah keseluruhan
penduduknya. Presentasi yang sekian banyak itu bukan berarti masyarakat muslim berhak
untuk mengucilkan masyarakat yang memeluk agama lain, karena Indonesia
sejatinya berdiri dari nilai-nilai sejarah yang terbingkai dalam persatuan dan
kesatuan dalam menegakkan kemerdekaan yang hakiki. Berkaitan dengan pendidikan,
pastinya banyak para pelajar yang menempuh pendidikan agama islam baik di
sekolah maupun perguruan tinggi. Pendidikan agama islam ini selain bertujuan
untuk membentuk karakter pelajar yang islami juga membentuk identitas pelajar
islam yang menyangi antar sesama pemeluk agama lain. Akan tetapi, kalau kita
lihat fenomena sekarang ini justru banyak sekali kasus-kasus pelajar yang tidak
seharusnya dilakukan oleh pelajar islam. Bisa diambil contoh dalam Harianpati.com dengan adanya tawuran
antar siswa SMK Tunas Harapan Pati Jateng dengan SMK Nasional Pati. Mereka
kebanyakan pelajar beragama islam, tetapi entah kenapa bisa terjadi kejadian yang
tidak seharusnya dilakukan. Kasus yang ekstrem lagi yang termuat dalam berita Kompas.com adanya Bom Bali 1 dan 2 yang
dilakukan oleh para jihadis yang berfikiran berjuang untuk mendirikan hukum
islam di Indonesia. Justru dampak dari adanya pengeboman ini menimbulkan
perselisihan antar umat beragama, karena dianggap ajaran agama islam harus
membunuh orang yang tidak sefaham dengannya. Inilah wujud kemunduran dalam memahami
pendidikan agama islam.
Berbagai
gejolak yang ada harus benar-benar diperhatikan, lalu bagaimana perkembangan
pendidikan agama islam sekarang ini? Inovasi apa yang harus diterapkan dalam
membentuk karakter pelajar yang islami dan berkebangsaan? Seiring dengan
perkembangan zaman, kita tidak bisa memungkiri dengan adanya model pembelajaran
agama islam nusantara. Pendidikan agama islam nusantara yakni pembelajaran
tentang nilai-nilai islam yang berada di nusantara. Selain itu pembelajaran ini
juga tidak melepas identitas keindonesiaannya selama masih sesuai dengan ajaran
Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini sangat diperlukan mengingat keberadaan Indonesia
sebagai negara yang multikultural. Menegakkan agama islam itu harus sesuai
dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu
masyarakat juga harus hidup di tengah-tengah masyarakat dengan kepercayaan yang
berbeda-beda. Maka pembelajaran pendidikan agama islam nusantara sebagai bentuk
solusi dalam mengembangkan nilai-nilai keislaman yang berkebangsaan, karena
pendidikan agama islam nantinya akan diakulturasikan dengan nilai-nilai budaya
Indonesia yang ada selama ini.
Dalam
mewujudkan model pembelajaran ini ada beberapa langkah yang harus dilakukan
oleh lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Langkah pertama, lembaga
pendidikan formal harus ada ikatan kerjasama yang saling menguntungkan dengan
lembaga pendidikan non-formal, seperti pondok pesantren atau majlis ta’lim. Kerjasama
ini sebagai bentuk penanaman nilai-nilai agama islam yang sesuai dengan
kebudayaan setempat, karena pembelajaran di pondok pesantren atau majlim ta’lim
pastinya memperdalam ilmu-ilmu agama yang menggunakan literatul dari kitab kuning
yang bukan kitab terjemahan. Sehingga dengan adanya literatul yang lebih autentik
ini akan menunjukkan pemahaman yang sebenarnya tentang nilai-nilai ajaran islam
yang ada. Kita perhatikan kandungan Q.S. Al-Kafirun ayat 6, ayat tersebut sudah
sangat jelas bahwa “Bagimu agamamu, dan
bagiku agamaku”. Jadi tidak ada
larangan dalam memeluk agama dan kepercayaan serta tidak ada pula saling
berselisih antar umat beragama. Maka dengan adanya kerjasama antara lembaga
pendidikan formal dan non-formal diharapkan akan mempermudah dalam
mengembangkan pemeblajaran pendidikan agama islam yang berkebangsaan.
Langkah
yang kedua adalah penerapan proses pembelajaran agama islam yang bersifat
kontekstual. Dalam pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah maupun perguruan
tinggi, seorang pengajar harus mampu mengasosiasikan nilai-nilai agama islam
dengan nilai-nilai budaya Indonesia secara kontekstual. Salah satu contoh kecil
dengan adanya pendidikan pancasila dan pendidikan kepramukaan, kedua pendidikan
ini ketika difahami secara mendalam tidak ada nilai-nilai yang melenceng dengan
ajaran agama islam. Seperti sila ketiga dari Pancasila yakni “Persatuan Indonesia” yang dihubungkan
dengan Dasa Dharma Pramuka yang kedua “Cinta
alam dan kasih sayang sesama manusia” dan dengan nilai-nilai ajaran islam
yang ada, pastinya ketiga nilai ajaran tersebut memiliki esensi yang sama bahwa
sesama manusia itu harus saling bersatu dan saling mengasihi. Hal ini sudah
diterapkan oleh Rasulullah SAW dalam masa hidupnya, beliau tidak pernah
menanamkan rasa benci terhadap orang-orang kafir meskipun mereka selalu
menyakiti dan menghalangi beliau dalam menyiarkan agama islam.
Langkah
yang ketiga adalah penanaman nilai-nilai sejarah Indonesia. Hal ini dapat
diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama islam berbasiskan nilai-nilai
sejarah Indonesia. Bagaimana langkah-langkah dalam beribadah kepada Allah tanpa
memandang sisi lain dari orang di sekitarnya. Sering kita lihat kasus-kasus
radikalisme yang terjadi di Indonesia, bahkan ironisnya banyak sekali para
mahasiswa yang disebut sebagai agen perubahan masyarakat yang tidak lagi cinta
dengan tanah airnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya gerakan-gerakan
anti pancasila dan NKRI, lalu dengan adanya gerakan radikalisme apakah nantinya
akan menjadikan Indonesia yang berdaulat dan makmur? Secara pasti tidak akan
terwujud Indonesia yang berdaulat, justru yang terjadi akan adanya peselisihan
antar umat beragama yang berujung perang agama. Sejarah-sejarah pendirian
negara Indonesia juga harus diajarkan dalam pendidikan agama islam, agar supaya
para pelajar selain menerapkan nilai-nilai yang islami juga selalu menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa melalui kisah para pahlawan terdahulu dalam
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Langkah
yang keempat adalah menciptakan gerakan-gerakan sosial sebagai wujud praktik
lapangan dari pembelajaran agama islam itu sendiri. Ketika kita memahami pelajaran
agama islam pastinya akan bermuara dengan kehidupan di dunia dan di akhirat.
Akan tetapi, pembelajaran agama islam yang ada di sekolah masih banyak yang
dkembangkan dari segi pemahamannya saja, tetapi dari segi mempraktikkan
nilai-nilai yang terkandung masih belum maksimal. Bisa diambil contoh dalam
lingkungan sekolah pastinya ada kegiatan sosial yang bertujuan untuk membentuk
karakter siswa. Maka dari itu, dalam pendidikan agama islam kegiatan-kegiatan
sosial juga harus dilaksanakan secara rutin. Kegiatan yang dimaksud disini
bukan berarti kegiatan yang harus mengeluarkan biaya yang besar, tetapi
kegiatan sosial dapat dilakukan seperti adanya kerja bakti di dalam dan di luar
lingkungan sekolah, menyantuni orang miskin, bersembahyang bersama sesuai dengan
ajaran yang diyakininya, dan pastinya selalu mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Dari keempat langkah tersebut sebagai wujud
membentuk karakter pelajar yang islami dan pastinya bernilai kebangsaan. Dengan
adanya gerakan pendidikan agama islam nusantara diharapkan akan memberikan
gambaran dan pemahaman terhadap pelajar dan pemuda bahwa dalam menerapkan
nilai-nilai ajaran islam bukan hanya berhubungan dengan Allah saja, melainkan
berperilaku dengan sesama dan pelestarian lingkungan sekitar juga sebagai wujud
penerapan nilai-nilai ajaran agama islam yang harus diterapkan pula. Maka tidak
salah dengan adanya pendidikan islam nusantara, pendidikan yang tidak berarti
meninggalkan nilai-nilai ajaran islam yang sesuai dengan kandungan Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul. Akan tetapi pendidikan agama islam yang dikolaborasikan
dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia tanpa melencengkan maksud yang
terkandung dalam perintah Allah semata.
0 komentar:
Post a Comment