Berbicara
mengenai pendidikan pastinya semua orang akan berlomba-lomba dalam meningkatkan
kadar intelektualitasnya melalui pemahaman tentang ilmu pengetahuan dan
teknologi, karena melalui pendidikan seseorang akan menjadi good and smart. Artinya, manusia yang
terdidik seharusnya menjadi orang yang bijak atau dapat menggunakan ilmunya
dalam kehidupan sehari-hari, hidup secara bijak dalam seluruh aspek kehidupan
mulai dari diri sendiri, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara.
Maka tidaklah heran jika setiap manusia menginginkan pendidikan yang setinggi-tingginya
untuk memperoleh cakrawala ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya. Lalu,
bagaimana dengan perkembangan pendidikan di Indonesia yang lagi digencarkannya
pendidikan berkarakter?
Seseorang
bisa menempuh pendidikan harus belajar di institusi pendidikan, baik pendidikan
secara formal maupun non formal. Ketika menempuh pendidikan pun tidak sedikit
biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai pendidikan anak didik. Hanya saja,
sampai saat ini tidak sedikit institusi pendidikan di Indonesia yang hanya bisa
membengkakkan tarif pendidikan, membangun sekolah mewah, namun tidak mampu
membentuk karakter. Pembentukan karakter sangat erat kaitannya dengan menyiapkan
internal atau batin individu yang senantiasa berpikir baik, berhati baik, dan
bertindak baik. Karena itu, sebuah sistem pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan
yang mahal, murah atau bahkan murahan, melaikan pendidikan yang membentuk
generasi-generasi bangsa yang berkarakter. Kata Dalai Lama (pemimpin spiritual
Tibet), untuk menciptakan masyarakat yang penuh kedamaian harus dimulai dari
dalam diri setiap individu, yaitu melalui transformasi internal dalam diri
setiap insan.
Sejatinya,
konsep pendidikan karakter telah digagas di awal kemerdekakan. Pancasila
sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa sudah mengandung nilai-nilai
karakter serta nilai-nilai luhur yang harus dihayati, dijadikan pedoman, dan
diamalkan oleh seluruh warga negara Indonesia dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Lebih dari itu, nilai-nilai Pancasila sepatutnya
menjadi karakter masyarakat Indonesia, sehingga Pancasila menjadi identitas
atau jati diri bangsa Indonesia. Mengingat kedudukan dan fungsinya yang sangat
fundamental bagi negara dan bangsa Indonesia, maka dalam pembangunan karakter
bangsa, Pancasila merupakan landasan utama.
Mengenal
istilah pendidikan berkarakter sangat tepat untuk meningkatkan kualitas IPTEK
dan moral anak didik bangsa Indonesia. Indonesia sebagai negara multikultural selayaknya
mampu membingkai pendidikan yang sesuai dengan kompetensi dan minat anak yang
searah dengan budayanya masing-masing. Sudah tidak asing lagi di telinga
masyarakat Indonesia bahwa nilai-nilai karakter harus berlandaskan budaya
bangsa, menilik dari hal tersebut ada 18 nilai yang harus diterapkan oleh anak
didik bangsa. dari kedelapan belas nilai karakter tersebut juga sangat sesuai
dengan berbagai budaya yang ada di Indonesia. Maka dari itulah, institusi
pendidikan diharapkan mampu menerapkan kedelapan belas nilai tersebut di setiap
proses pembelajaran kesehariannya.
Melihat
persiapan institusi pendidikan dalam membangun karakter anak didik yang cerdas,
tanggap dan berakhlak, maka pemerintah pun mencetuskan untuk memperbaiki
kurikulum yang dikenal dengan kurikulum 2013 atau K13. Kurikulum yang dirancang
sebagai wujud pembaharuan dalam paradigma pendidikan bangsa bahwa anak didik
harus berlaku aktif, kreatif, inovatif, dan berakhlak mulia serta tanggap
dengan keadaan lingkungan. Kurikulum ini pun dirancang dengan sedemikian rupa
mulai dari persiapan pemerintah pusat sampai turun kepada warga sekolah. “Sedikit
perbedaan, tetapi banyak perubahan” kalimat itulah yang pantas untuk
menggambarkan pendidikan berkarakter melalui kurikulum 2013 ini. Melalui
kurikulum 2013 guru tidak hanya dituntut untuk menilai dari segi kognitifnya
saja, melainkan dari segi afektif dan psikomotorik juga harus dievaluasi secara
rinci di setiap proses pembelajarannya. Jadi dengan proses seperti ini
diharapkan pendidikan berkarakter dapat menjulang tinggi untuk memperbaiki karakter
anak didik. Akan tetapi perlu yang diketahui oleh pemerintah di bidang
pendidikan bahwa menerapkan suatu obat pasti ada dosisnya.
Berbeda
cerita akan merubah persepsi bangsa Indonesia, hal ini dibuktikan dengan
implementasi dari kurikulum 2013 ini. Sebelumnya banyak sekali yang setuju dengan
penerapan kurikulum 2013, tetapi juga tidak sedikit masyarakat yang tidak
setuju dengan penerapan kurikulum tersebut. Semua sudah mulai terjawab secara
perlahan-lahan. Dilihat dari rencana memang sangat strategis dalam
mengembangkan karakter anak sesuai dengan minat, bakat, dan budaya setempat.
Akan tetapi untuk mewujudkan semua itu tidak semudah mengobati sakit kepala,
harus ada proses yang panjang dan sejalan dengan perubahan-perubahan yang
terjadi di lingkungan masyarakat. Karena moral yang menjadikan karakter anak
didik sudah mulai retak secara perlahan, sehingga kurikulum 2013 ini harus bisa
menjadi obat yang mampu menyembuhkan penyakit yang sudah kronis.
Kurikulum
2013 ini guru sebagai tenaga pendidik di tuntut sedetail mungkin dalam
merencanakan, melaksanakan, sampai mengevaluasi proses pembelajaran yang
dilaksanakan dengan baik, tetapi jika melihat kondisi guru di Indonesia belum
selayaknya harus disamaratakan sedemikian rupa. Tidak semua guru mampu mengikuti
perubahan kurikulum bak kilat di tengah malam. Ditambah lagi faktor usia para
tenaga pendidik juga sangat mempengaruhi kesiapan dalam mengimplementasikan ini
semua. Alokasi waktu jam mengajar juga tidak ada perubahannya dengan jam
mengajar sebelum adanya kurikulum K13 ini, sehingga guru pontang-panting untuk mengajar dan mendidik ratusan anak didik
dengan waktu yang sedikit. Padahal K13 ini menuntut para tenaga pendidik untuk
menyelesaikan tugasnya sebagai guru semaksimal mungkin dengan waktu yang
terbatas, sehingga ini akan menjadikan guru fokus dengan menyelesaikan
tugasnya, bukan untuk mengajar dan mendidik anak supaya mengerti dan berakhlak
baik sesuai dengan materi yang diajarkannya.
Perlu
diketahui bahwa Jakarta milik Indonesia, Papua juga milik Indonesia. Dari
contoh kedua wilayah ini sudah terjadi ketimpangan untuk diterapkannya
pendidikan berbasis kurikulum 2013. Kurikulum ini menuntut siswa untuk aktif membaca
berbagai sumber belajar, pemerintah juga sudah mulai gencar memberikan buku
paket kurikulum 2013. Akan tetapi apa yang terjadi di lapangan? Masih banyak
sekolah-sekolah yang belum menerima buku paket tersebut sesuai dengan rencana
waktu dan jumlah yang dialokasikan. Selain sumber pustaka yang disediakan oleh
sekolah masing-masing juga anak didik bisa mencari materi pembelajaran melalui
internet, tetapi kita kembalikan lagi mengingat latar belakang perekonomian
masyarakat Indonesia tidak semuanya berada di skala menengah ke atas. Anak-anak
dari keluarga yang kurang mampu pun sudah sangat bersyukur bisa mengenyam
pendidikan di sekolah, apalagi ditambah dengan tuntutan untuk memiliki gadget. Hal ini nantinya malah
memberatkan anak didik, bukan meringankan pembelajaran mereka.
Selain
permasalah faktor dari kesiapan guru dan sarana prasarana di atas, permasalah
muncul dengan adanya kurikulum 2013 ini menjadikan anak didik lupa dengan
budaya di sekitarnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Setiap harinya siswa selalu
diberikan tugas di sekolah dan tugas untuk dikerjakan di rumah yang sangat
banyak, memang sebagai siswa tugasnya harus belajar. Akan tetapi perlu
dievaluasi kembali mengingat anak didik juga harus bercengkrama dengan
lingkungan sekitar rumah. Sekarang banyak sekali anak sudah mulai acuh tak acuh
dengan kondisi sekitarnya, bahkan dengan keluarganya sendiri. Anak didik setiap
pulang sekolah langsung tertuju dengan pekerjaan rumah, tetapi bukan pekerjaan rumah untuk membantu
orang tuanya, melainkan pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya. Secara
perlahan, hal ini menjadikan anak mulai terlelap dengan kondisi di sekitarnya.
Pada saat malam harinya anak juga dituntut untuk belajar materi yang akan
diajarkan gurunya esok hari. Sehingga hal yang sedemikian inilah anak sering
mengalami kondisi fikiran yang tertekan dan menjadikan anak mulai stress.
Secara tidak langsung, sesuai dengan psikologi perkembangan peserta didik, anak
akan mulai mencari hiburan untuk mengimbangi beban belajar yang ditanggungnya,
sehingga tidak heran jika sudah banyak mencari hiburan dengan gaya pacaran,
nongkrong di jalanan, berfoya-foya dan bahkan sampai meminum minuman keras dan
pesta seks di luar nikah.
Apabila diamati dari berbagai permasalahan di
atas, berbagai perilaku anak didik yang menyimpang dan berujung dalam tindakan
kriminal tidak semata-mata kesalahan anak didik tersebut, bukan juga hanya
kesalahan orang tua yang kurang memperhatikan anaknya. Akan tetapi dari segi
pendidikan juga harus diamati pula bahwa dengan tuntutan tugas yang banyak
menjadikan anak lupa diri dengan lingkungan keluarga, teman sebaya dan bahkan
dengan tuhannya. Perlu diingat bahwa semakin banyak tugas bukan menjadi
indikator semakin bagus karakter anak didik. Semua tidak ada yang buruk,
begitupun dengan kurikulum 2013 yang diterapkan saat ini, hanya saja kurikulum
ini belum tepat untuk diterapkan di Indonesia, karena mengingat bangsa
Indonesia yang beraneka ragam, faktor tenaga pendidik, keadaan institusi
pendidikan, dan perkembangan psikologi anak didik.
0 komentar:
Post a Comment