Wednesday, October 26, 2016

K-13 : PENAWAR RACUN DEGRADASI MORAL YANG BERDOSIS TINGGI

Berbicara mengenai pendidikan pastinya semua orang akan berlomba-lomba dalam meningkatkan kadar intelektualitasnya melalui pemahaman tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, karena melalui pendidikan seseorang akan menjadi good and smart. Artinya, manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang yang bijak atau dapat menggunakan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari, hidup secara bijak dalam seluruh aspek kehidupan mulai dari diri sendiri, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara. Maka tidaklah heran jika setiap manusia menginginkan pendidikan yang setinggi-tingginya untuk memperoleh cakrawala ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya. Lalu, bagaimana dengan perkembangan pendidikan di Indonesia yang lagi digencarkannya pendidikan berkarakter?
Seseorang bisa menempuh pendidikan harus belajar di institusi pendidikan, baik pendidikan secara formal maupun non formal. Ketika menempuh pendidikan pun tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai pendidikan anak didik. Hanya saja, sampai saat ini tidak sedikit institusi pendidikan di Indonesia yang hanya bisa membengkakkan tarif pendidikan, membangun sekolah mewah, namun tidak mampu membentuk karakter. Pembentukan karakter sangat erat kaitannya dengan menyiapkan internal atau batin individu yang senantiasa berpikir baik, berhati baik, dan bertindak baik. Karena itu, sebuah sistem pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang mahal, murah atau bahkan murahan, melaikan pendidikan yang membentuk generasi-generasi bangsa yang berkarakter. Kata Dalai Lama (pemimpin spiritual Tibet), untuk menciptakan masyarakat yang penuh kedamaian harus dimulai dari dalam diri setiap individu, yaitu melalui transformasi internal dalam diri setiap insan.
 Sejatinya, konsep pendidikan karakter telah digagas di awal kemerdekakan. Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa sudah mengandung nilai-nilai karakter serta nilai-nilai luhur yang harus dihayati, dijadikan pedoman, dan diamalkan oleh seluruh warga negara Indonesia dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Lebih dari itu, nilai-nilai Pancasila sepatutnya menjadi karakter masyarakat Indonesia, sehingga Pancasila menjadi identitas atau jati diri bangsa Indonesia. Mengingat kedudukan dan fungsinya yang sangat fundamental bagi negara dan bangsa Indonesia, maka dalam pembangunan karakter bangsa, Pancasila merupakan landasan utama.
Mengenal istilah pendidikan berkarakter sangat tepat untuk meningkatkan kualitas IPTEK dan moral anak didik bangsa Indonesia. Indonesia sebagai negara multikultural selayaknya mampu membingkai pendidikan yang sesuai dengan kompetensi dan minat anak yang searah dengan budayanya masing-masing. Sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia bahwa nilai-nilai karakter harus berlandaskan budaya bangsa, menilik dari hal tersebut ada 18 nilai yang harus diterapkan oleh anak didik bangsa. dari kedelapan belas nilai karakter tersebut juga sangat sesuai dengan berbagai budaya yang ada di Indonesia. Maka dari itulah, institusi pendidikan diharapkan mampu menerapkan kedelapan belas nilai tersebut di setiap proses pembelajaran kesehariannya.
Melihat persiapan institusi pendidikan dalam membangun karakter anak didik yang cerdas, tanggap dan berakhlak, maka pemerintah pun mencetuskan untuk memperbaiki kurikulum yang dikenal dengan kurikulum 2013 atau K13. Kurikulum yang dirancang sebagai wujud pembaharuan dalam paradigma pendidikan bangsa bahwa anak didik harus berlaku aktif, kreatif, inovatif, dan berakhlak mulia serta tanggap dengan keadaan lingkungan. Kurikulum ini pun dirancang dengan sedemikian rupa mulai dari persiapan pemerintah pusat sampai turun kepada warga sekolah. “Sedikit perbedaan, tetapi banyak perubahan” kalimat itulah yang pantas untuk menggambarkan pendidikan berkarakter melalui kurikulum 2013 ini. Melalui kurikulum 2013 guru tidak hanya dituntut untuk menilai dari segi kognitifnya saja, melainkan dari segi afektif dan psikomotorik juga harus dievaluasi secara rinci di setiap proses pembelajarannya. Jadi dengan proses seperti ini diharapkan pendidikan berkarakter dapat menjulang tinggi untuk memperbaiki karakter anak didik. Akan tetapi perlu yang diketahui oleh pemerintah di bidang pendidikan bahwa menerapkan suatu obat pasti ada dosisnya.
Berbeda cerita akan merubah persepsi bangsa Indonesia, hal ini dibuktikan dengan implementasi dari kurikulum 2013 ini. Sebelumnya banyak sekali yang setuju dengan penerapan kurikulum 2013, tetapi juga tidak sedikit masyarakat yang tidak setuju dengan penerapan kurikulum tersebut. Semua sudah mulai terjawab secara perlahan-lahan. Dilihat dari rencana memang sangat strategis dalam mengembangkan karakter anak sesuai dengan minat, bakat, dan budaya setempat. Akan tetapi untuk mewujudkan semua itu tidak semudah mengobati sakit kepala, harus ada proses yang panjang dan sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Karena moral yang menjadikan karakter anak didik sudah mulai retak secara perlahan, sehingga kurikulum 2013 ini harus bisa menjadi obat yang mampu menyembuhkan penyakit yang sudah kronis.
Kurikulum 2013 ini guru sebagai tenaga pendidik di tuntut sedetail mungkin dalam merencanakan, melaksanakan, sampai mengevaluasi proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan baik, tetapi jika melihat kondisi guru di Indonesia belum selayaknya harus disamaratakan sedemikian rupa. Tidak semua guru mampu mengikuti perubahan kurikulum bak kilat di tengah malam. Ditambah lagi faktor usia para tenaga pendidik juga sangat mempengaruhi kesiapan dalam mengimplementasikan ini semua. Alokasi waktu jam mengajar juga tidak ada perubahannya dengan jam mengajar sebelum adanya kurikulum K13 ini, sehingga guru pontang-panting untuk mengajar dan mendidik ratusan anak didik dengan waktu yang sedikit. Padahal K13 ini menuntut para tenaga pendidik untuk menyelesaikan tugasnya sebagai guru semaksimal mungkin dengan waktu yang terbatas, sehingga ini akan menjadikan guru fokus dengan menyelesaikan tugasnya, bukan untuk mengajar dan mendidik anak supaya mengerti dan berakhlak baik sesuai dengan materi yang diajarkannya.
Perlu diketahui bahwa Jakarta milik Indonesia, Papua juga milik Indonesia. Dari contoh kedua wilayah ini sudah terjadi ketimpangan untuk diterapkannya pendidikan berbasis kurikulum 2013. Kurikulum ini menuntut siswa untuk aktif membaca berbagai sumber belajar, pemerintah juga sudah mulai gencar memberikan buku paket kurikulum 2013. Akan tetapi apa yang terjadi di lapangan? Masih banyak sekolah-sekolah yang belum menerima buku paket tersebut sesuai dengan rencana waktu dan jumlah yang dialokasikan. Selain sumber pustaka yang disediakan oleh sekolah masing-masing juga anak didik bisa mencari materi pembelajaran melalui internet, tetapi kita kembalikan lagi mengingat latar belakang perekonomian masyarakat Indonesia tidak semuanya berada di skala menengah ke atas. Anak-anak dari keluarga yang kurang mampu pun sudah sangat bersyukur bisa mengenyam pendidikan di sekolah, apalagi ditambah dengan tuntutan untuk memiliki gadget. Hal ini nantinya malah memberatkan anak didik, bukan meringankan pembelajaran mereka.
Selain permasalah faktor dari kesiapan guru dan sarana prasarana di atas, permasalah muncul dengan adanya kurikulum 2013 ini menjadikan anak didik lupa dengan budaya di sekitarnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Setiap harinya siswa selalu diberikan tugas di sekolah dan tugas untuk dikerjakan di rumah yang sangat banyak, memang sebagai siswa tugasnya harus belajar. Akan tetapi perlu dievaluasi kembali mengingat anak didik juga harus bercengkrama dengan lingkungan sekitar rumah. Sekarang banyak sekali anak sudah mulai acuh tak acuh dengan kondisi sekitarnya, bahkan dengan keluarganya sendiri. Anak didik setiap pulang sekolah langsung tertuju dengan pekerjaan  rumah, tetapi bukan pekerjaan rumah untuk membantu orang tuanya, melainkan pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya. Secara perlahan, hal ini menjadikan anak mulai terlelap dengan kondisi di sekitarnya. Pada saat malam harinya anak juga dituntut untuk belajar materi yang akan diajarkan gurunya esok hari. Sehingga hal yang sedemikian inilah anak sering mengalami kondisi fikiran yang tertekan dan menjadikan anak mulai stress. Secara tidak langsung, sesuai dengan psikologi perkembangan peserta didik, anak akan mulai mencari hiburan untuk mengimbangi beban belajar yang ditanggungnya, sehingga tidak heran jika sudah banyak mencari hiburan dengan gaya pacaran, nongkrong di jalanan, berfoya-foya dan bahkan sampai meminum minuman keras dan pesta seks di luar nikah.
Apabila diamati dari berbagai permasalahan di atas, berbagai perilaku anak didik yang menyimpang dan berujung dalam tindakan kriminal tidak semata-mata kesalahan anak didik tersebut, bukan juga hanya kesalahan orang tua yang kurang memperhatikan anaknya. Akan tetapi dari segi pendidikan juga harus diamati pula bahwa dengan tuntutan tugas yang banyak menjadikan anak lupa diri dengan lingkungan keluarga, teman sebaya dan bahkan dengan tuhannya. Perlu diingat bahwa semakin banyak tugas bukan menjadi indikator semakin bagus karakter anak didik. Semua tidak ada yang buruk, begitupun dengan kurikulum 2013 yang diterapkan saat ini, hanya saja kurikulum ini belum tepat untuk diterapkan di Indonesia, karena mengingat bangsa Indonesia yang beraneka ragam, faktor tenaga pendidik, keadaan institusi pendidikan, dan perkembangan psikologi anak didik.

0 komentar:

Post a Comment