Mengupas
permasalahan di Indonesia bagaikan jalan yang tidak pernah ada ujungnya. Di
setiap jalan selalu ditemukan berbagai tikungan tajam dan keadaan jalan yang
terjal dan berliku. Begitupun dengan Indonesia, negara yang memiliki sumber
daya yang melimpah belum mampu mewujudkan negara yang bisa terlabelkan sebagai
negara maju. Julukan bagi negara ini tidaklah sedikit, mulai dari negara
maritim, agraris, zamrud khatulistiwa, megabiodiversitas, hingga heaven earth (syurga dunia) tidak mampu
menciptakan tatanan kehidupan yang makmur dan sejahtera bagi masyarakatnya.
Hiruk pikuk permasalahan di Indonesia seakan-akan tidak ada habisnya, berbagai
tindakan kriminal dan asusila telah memberikan lukisan bagi kehidupan di negara
nusantara ini.
Berbicara
sebagai negara maju dan berkembang, status Indonesia saat ini masih tenang dan
setia di posisi negara berkembang. Hal ini dikarenakan berbagai hal, baik dari
pendidikan masyarakatnya yang masih rendah, tingkat kemiskinan yang masih
tinggi, tindakan kriminal yang masih sering terjadi, dan bahkan menjadi negara
agraris yang mengimpor beras dari negara-negara tetangga. Semua ini tidaklah
semata-mata kesalahan dari pemerintah selaku pemimpin negara Indonesia, berbagai
produk program kerja pemerintah pastinya bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan masyarakatnya untuk hidup yang sejahtera. Akan tetapi, keberadaan
masyarakat dengan pendidikan yang masih rendah menjadikan Indonesia belum mampu
mencapai titik kesejahteraan yang seimbang.
Berbagai
permasalahan di atas dapat terselesaikan hanya dapat ditempuh melalui jalur
pendidikan. Bagaimanapun, masyarakat Indonesia harus mampu menempuh pendidikan
setinggi-tingginya supaya dapat hidup mandiri melalui pengetahuan dan keterampilan
yang dimilikinya. Akan tetapi, dari masa colonial hingga saat ini keadaan
masyarakat masih dalam taraf pendidikan yang masih rendah. Masih banyak
masyarakat Indonesia yang tidak mampu merasakan duduk di bangku pendidikan
tinggi, khususnya masyarakat yang tinggal di daerah pedesaaan.
Kondisi
pendidikan di Indonesia sendiri mengalami ketimpangan yang sangat jelas. Hal
ini tidak bisa dipungkiri dengan adanya kalimat “Indonesia barat dan Indonesia Timur”. Pusat pemerintahan,
pendidikan, dan perekonomian sendiri berada di wilayah Indonesia barat,
khususnya di Pulau Jawa, hal ini menyebabkan terjadinya ketimpangan yang sangat
mengkhawatirkan bagi keutuhan negara Indonesia kedepannya. Pulau Jawa yang
menjadi jantung kehidupan Indonesia telah memikat banyak masyarakat Indonesia
yang luar Pulau Jawa untuk merantau mengadu nasib di pulau ini, sehingga daerah
yang jauh dari Pulau Jawa mulai diabaikan hingga memperoleh label sebagai
daerah atau desa 3T, yakni tertinggal, terdepan, dan terpencil.
Jumlah
Desa 3T (tertinggal, terdepan, dan terpencil) hingga saat ini kurang lebih
terdapat 5.000 desa, sehingga sangat ironis apabila pertumbuhan ekonomi Negara
Indonesia di setiap tahunnya mengalami kenaikan, tetapi masih ribuan desa di
Indonesia yang dijuluki sebagai Desa 3T. Oleh karena itu, akselerasi
pembangunan di Desa 3T sudah banyak dilakukan oleh pemerintah untuk menghapus
label desa tersebut. Mulai program pendidikan seperti, beasiswa bidikmisi,
beasiswa afirmasi, beasiswa anak papua, dan program SM3T (Sarjana Mendidik di
Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal hingga di bidang perekonomian seperti
adanya dana desa guna mewujudkan desa yang maju dan sejahtera. Berbagai program
pemerintah tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang tinggal di
desa 3T, tetapi yang masih menjadi polemik hingga saat ini adalah perkembangan
desa 3T yang belum mampu memutus lingkaran setan kemiskinan (the vicious circle of proverty).
Teori
lingkaran kemiskinan telah menjangkit masyarakat yang tinggal di Desa 3T,
sehingga dengan berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, sosial,
ekonomi, kesehatan, dan lainnya belum mampu untuk memutus lingkaran setan
kemiskinan tersebut. Adapun kunci untuk memutus lingkaran setan kemiskinan
hanya bisa dilakukan melalui pencerdasan generasi di Desa 3T melalui program
pendidikan yang benar-benar setara dengan iklim pendidikan yang ada di daerah
maju, salah satunya di Pulau Jawa. Program SM3T memang sangat membantu untuk
mencerdaskan generasi pelajar di wilayah Desa 3T, tetapi hingga saat ini
program tersebut hanya sebatas penugasan sumber daya manusia yang profesional
untuk mewujudkan generasi di Desa 3T yang cerdas dan terampil, tetapi belum
diperhatikannya oleh pemerintah mengenai fasilitas pendukungnya.
Fasilitas
pendukung dalam proses pembelajaran terdiri dari berbagai macam, seperti meja,
kursi, papan tulis, dan bank data kelas. Akan tetapi, fasilitas utama yang
harus tersedia yakni adanya perpustakaan. Di desa 3T tidak bisa dipungkiri mengenai
keberadaan dan kelengkapan perpustakaan yang ada, baik di sekolah-sekolah
maupun di desa, sehingga proses pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran apapun pasti membutuhkan perpustakaan sebagai tempat untuk mencari
berbagai literasi. Oleh karena itu, perlu diadakannya Gerakan Pendirian
Perpustakaan Desa (GAK-PeDe) untuk
mewujudkan desa 3M, yakni mandiri, maju, dan makmur.
Tujuan
didirikannya perpustakaan desa yakni untuk dijadikan gudang referensi bagi
para pelajar di desa tersebut, sehingga
apabila para pelajar membutuhkan berbagai buku bacaan tidak hanya bergantung
dengan perpustakaan sekolah yang belum tentu lengkap dengan berbagai buku
referensi. Selain itu, tujuan didirikannya perpustakaan desa juga menyediakan
berbagai buku bacaan bagi masyarakat yang statusnya bukan pelajar, seperti buku
resep memasak bagi ibu-ibu PKK, buku pedoman budidaya tanaman maupun ikan, dan
lain sebagainya. Dengan demikian, masyarakat dan pelajar secara khususnya akan
mulai sadar pentingnya makna pendidikan, karena dengan pengetahuan dan
keterampilan yang dimilikinya akan mampu merubah desanya yang berlabelkan 3T
berubah menjadi 3M.
Proses
pendirian perpustakaan desa didirikan secara berdekatan dengan kantor desa
setempat, sehingga apabila masyarakat memiliki kebutuhan di kantor desa bisa
sambil mencari bacaan yang dibutuhkan. Secara struktural, pengelola
perpustakaan langsung di bawah naungan desa setempat supaya dalam pengurusan
administrasi bisa berjalan dengan tertib. Selain itu, perpustakaan bukan hanya menyediakaan
sumber-sumber buku bacaan, tetapi juga mengadakan program penghapusan buta
aksara bagi masyarakat yang belum bisa membaca. Jadi, dengan didirikannya
perpustakaan desa tidak lagi menjadi masalah bagi para pelajar untuk mencari
berbagai literasi untuk menunjang proses pembelajarannya. Selain itu, jumlah
masyarakat yang buta aksara bisa diminimalisasi melalui program penghapusan
buta aksara di perpustakaan desa tersebut.
Keberadaan
perpustakaan desa diharapkan mampu mengubah desa 3T menjadi desa 3M, karena
dengan berbagai buku bacaan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menambah
wawasan dan melatih keterampilan dalam mengolah sumber daya yang tersedia. Dengan
demikian, apabila masyarakat yang tinggal di desa 3T bisa memperoleh pendidikan
yang maju, secara tidak langsung tingkat perekonomian masyarakat juga akan
berkembang baik. Oleh karena itu, lingkaran setan kemiskinan (the vicious circle of proverty) bisa
diputus melalui pendidikan dan keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat.
Meskipun desa 3T jauh dari pusat pemerintahan, pendidikan, dan perekonomian
negara, tetapi dengan keberadaan perpustakaan desa diharapkan mampu memberikan
stimulus baru bagi masyarakat setempat untuk merasakan ilmu pengetahuan dan
keterampilan. Sudah saatnya label desa 3T (tertinggal, terdepan, dan terpencil)
bermetamorfosis menjadi desa 3M (mandiri, maju, dan makmur).
0 komentar:
Post a Comment