Terlahir dari sejarah
yang memilukan, membuat orang sadar betapa pentingnya usaha untuk mencapai
kesejahteraan. Begitu pun Indonesia, negara yang berabad-abad mengalami penindasan
dari penjajah. Berbagai upaya yang terbingkai dalam wujud persatuan dan
kesatuan telah mampu membuka gerbang emas bagi bangsa Indonesia. Surga dunia pun
telah mampu dimiliki tanpa harus mencari modal awal untuk membeli semua ini.
Inilah kekayaan alam yang dimiliki negara dalam lintas khatulistiwa. Negara
yang bergerak maju dengan beribu budaya yang nantinya akan mampu berdiri tegap
dalam mencapai kehormatan yang telah hilang. Semua harapan ini akan tercapai
dengan pasti apabila segenap bangsa selalu bergenggam tangan dalam mempererat
persatuan dan kesatuan menghadapi berbagai tantangan yang ada. Melihat keadaan
bangsa tercinta ini, bangsa yang kaya dalam bidang sumber daya alam mapun
budaya dari masing-masing suku. Selain itu, masyarakat Indonesia yang terkenal
dengan kearifan lokalnya menjadikan sebuah aset yang sangat berharga dalam
mencapai titik puncak kejayaan. Inilah yang patut dibanggakan oleh kita semua.
Kekayaan alam harus diolah semaksimal mungkin, pelestarian budaya harus dijaga
sebaik mungkin.
Melihat perkembangan
zaman yang semakin dewasa sekarang ini, momentum AEC (Asean Economic Community) 2015 pun sudah mulai kita rasakan di
setiap ranah kehidupan. Kebebasan dalam persaingan menjadi tantangan yang harus
ditaklukan. Sedetik saja kita tertinggal dalam menghadapi pesta liberalisasi
ini, maka lenyap sudah harapan bangsa yang suci. Saya sebagai generasi penerus
bangsa sungguh bangga dengan kekayaan bangsa, berbagai budaya mampu menghidupi
nyawa bangsa di seluruh tanah air ini. Akan tetapi, melihat keadaan bangsa yang
semakin apatis dengan warisan ini sungguh ironis jika bangsa ini mampu
menduduki kursi kerajaan dalam pesta AEC nantinya. Salah satu wilayah di
Indonesia yang sangat berpotensi dalam menghadapi AEC adalah Bali. Provinsi yang
dijuluki negeri seribu pura ini kaya dengan keindahan alam serta budaya lokal
yang harus selalu dilestarikan. Kekayaan inilah yang menjadi punggung ekonomi
masyarakat Bali, khususnya hasil kerajinan tangan yang menjadi modal besar
untuk menarik wisatawan asing maupun domestik di Bali. Sehingga potensi
industri kreatif ini perlu diperhatikan dan dikembangkan agar mampu menembus pasar ASEAN atau bahkan
internasional.
Berbicara potensi yang
dimiliki oleh masyarakat Bali, terlihat bagaikan gumpalan emas yang kapanpun
bisa diambil di saat masyarakat membutuhkan. Akan tetapi persepsi tersebut
tidak seperti yang ada di lapangan. Industri kreatif yang berskala mikro ini
masih banyak mengalami kendala dalam mengembangkan usahanya lebih luas lagi. Permasalahan
ini disebabkan berbagai hal, seperti keadaan perekonomian masyarakat Bali yang
masih berkategori menengah ke bawah maupun apresiasi dari pihak yang
berkepentingan belum terlalu dirasakan oleh para seniman di Bali. Sehingga
semangat jiwa dalam mengembangkan industri kreatif ini mengalami
hambatan-hambatan yang membutuhkan solusi nyata. Apabila bercermin dari petuah
Bung Karno, “Satu-satunya jalan Indonesia
keluar dari kemelut ekonomi ini adalah bekerja lebih keras dengan disiplin yang
tinggi”. Selain Bung Karno, Bung Syahrir juga berwasiat, “Untuk memperbaiki perekonomian Indonesia
perlu mengamankan konsentrasi kekuasaan ekonomi dan kekuasaan politik”.
Kedua wasiat di atas memberikan petunjuk bagi para pengusaha industri kreatif
bahwa dalam memperbaiki tatanan ekonomi harus adanya usaha yang lebih keras
lagi dan dukungan dari pemerintah dalam mengupayakan dan melindungi usaha
kreatif masyarakat yang khsusnya para seniman Bali.
Menurut saya dalam
mengatasi persoalan di atas harus ada tindakan yang cepat dan tepat sebagai
upaya mengembangkan industri kreatif di Bali. Pariwisata Bali bukan hanya
mengandalkan keindahan alamnya, melainkan kekayaan budaya yang masih sangat
kental yang selalu terkonsep dalam tri
hita karana agama hindu. Jadi solusi yang tepat harus dioptimalkannya
budaya lokal yang terangkum dalam G-PKS. G-PKS adalah Gerakan Pesta Kesenian yang
melekat pada masyarakat bali yang menjadi langkah awal dalam menghidupi
industri kerajinan dari para seniman dan usaha mikro lainnya. Gerakan yang
berbasis tri hita karana ini harus
dilaksanakan lebih maksimal lagi sebagai upaya penguatan dan keajegan budaya Bali. Gerakan ini
pastinya tidak hanya dilakukan oleh para budayawan dan seniman saja, tetapi
pemerintah juga berperan penting dalam melaksanakan G-PKS ini. Gerakan ini
dirangkai dengan berbagai macam kegiatan yang pastinya meningkatkan potensi
produktivitas industri kreatif para budayawan dan seniman dalam menarik wisatawan
untuk berkunjung ke Bali, tidak kalah pentingnya juga mempersiapkan diri bagi
pelaku UMKM yang ada di Bali dalam mennyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
nantinya.
G-PKS sebagai wujud
budaya Bali dan sekaligus menjadi inkubatos bisnis dalam mengembangkan usaha
mikro yang dapat dioptimalkan dalam berbagai langkah kegiatan. Langkah awal
yang harus dilakukan dalam melaksanakan G-PKS yakni pemerintah mengadakan
seminar, lokakarya inkra Bali. Kegiatan ini bertajuk pengembangan budaya Bali
dengan mendatangkan ekonom dan budayawan sebagai narasumber dalam acara ini.
Seminar atau lokakarya ini pesertanya para budayawan dan khususnya para seniman
Bali agar mereka mendapatkan wawasan dan pengalaman dari narasumber yang
professional mengenai langkah-langkah strategis yang harus dilakukan sebagai
upaya mengembangkan potensi budaya Bali dalam menghadapi persaingan global.
Selain itu seminar atau lokakarya ini juga akan memperkokoh mental masyarakat
agar keajegan budaya Bali tidak
tergerus oleh globalisasi. Sehingga dengan pelaksanaan seminar dan lokakarya agar
supaya para seniman dan budayawan mengetahui berbagai potensi dan tantangan
yang harus dihadapi dalam mewujdukan krama
bali yang terbingkai dalam prinsip-prinsip ajaran agama hindu.
Rangkaian selanjutnya
yakni diadakannya lomba produk unggulan dan pameran hasil usaha mikro kecil
menengah (UMKM) yang dihasilkan oleh masyarakat dari masing-masing daerah yang
ada di Bali. Kegiatan ini merupakan wujud apresiasi dari pihak pemerintah
sebagai sanjungan dan motivasi kepada para pelaku UMKM terhadap hasil karyanya.
Dengan adanya kegiatan ini pastinya para pelaku UMKM akan berlomba-lomba
menghasilkan produk yang inovatif dan bermutu tinggi untuk memenangkan lomba
tersebut. Selain itu, hasil-hasil UMKM yang dihasilkan oleh masyarakat Bali
memiliki karakteristi tersendiri. Contohnya kerajinan-kerajinan yang dihasilkan
masyarakat Bali lebih terkonsep dengan nilai-nilai ajaran hindunya, seperti
gambar dewa, simbol Hyang Widhi Wasa,
dan tulisan-tulisan aksara bali. Hal ini dikarenakan produk dari kerajinan
masyarakat Bali pasti memiliki makna sakral yang terkonsep dalam tri hita karana sesuai dengan ajaran
agama hindu. Hasil kerajinan seperti seni patung, ukiran, lukisan, dan tarian
memiliki makna untuk saling menjaga hubungan antara manusia terhadap tuhan,
manusia terhadap sesama, dan manusia terhadap lingkungan. Sehingga kerajinan
dari para seniman memiliki daya tarik tersendiri yang mampu mengikat para
wisatawan untuk memiliki produk tersebut atau sekedar mengeksplorasi
pengetahuannya melalui produk industri kerajinan tangan tersebut. Untuk itu
perlu diadakannya pameran-pameran yang bersifat terbuka kepada khalayak umum.
Dari serangkaian kegiatan
di atas, perlu pula dioptimalkan lembaga keuangan daerah Bali. Secara umumnya,
setiap manusia yang melakukan kegiatan bisnis pasti akan membutuhkan modal.
Begitupun dengan para pelaku UMKM yang ada di Bali, besar maupun kecil usaha
yang dilakukan pasti membutuhkan modal usaha. Dilihat dari sektor usahanya
pasti para pelaku UMKM sebagian besar mengalami kekurangan modal. Bali pun
sudah dari tahun 1985 telah mendirikan adanya Lembaga Perkreditan Desa (LPD).
LPD ini sebagai wujud program dari pemerintah Bali dalam mengembangkan
perekonomian masyarakat yang berbasiskan awig-awig
karma desa. Mulai dari awal berdiri hanya berjumlah 8 LPD hingga sampai
saat ini menjadi 1.356 LPD (Wahyu Adiputra: 2013). Lembaga keuangan daerah ini
sangat berbeda dengan lembaga keuangan yang ada secara umumnya, LPD ini juga
menjadi karakteristik lembaga keuangan di Bali yang tidak dimiliki oleh daerah
lain yang ada di Indonesia. LPD dalam tata kelolanya selalu memperhatikan
aturan-aturan atau awig-awig krama desa,
hal ini menunjukkan bahwa LPD memang benar-benar bertujuan untuk mengembangkan
perekonomian masyarakat di desa tersebut. Kegiatan simpan pinjam juga memiliki
karakteristik tersendiri, karena anggota yang bisa melakukan simpan pinjam
harus masyarakat desa pakraman
setempat. Hasil labanya juga dialokasikan untuk pembangunan desa sebanyak 20%,
jadi LPD memang benar-benar memperhatikan perekonomian local dan khususnya
dalam mengembangkan potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Maka dari
itu, peran LPD harus selalu dioptimalkan sebagai wujud lembaga keuangan yang
yang menjadi soko guru perekonomian
masyarakat Bali.
Selain dibentukanya
lembaga keuangan daerah juga perlu dibentuknya pusat pelatihan pengembangan
UMKM. Pusat pelatihan ini berfungsi sebagai media untuk mengimplementasikan pengetahuan
masyarakat dalam mengembangkan kerajinan tangan dengan gaya klasik maupun
kontemporer. Hal ini diperlukan karena mengingat dampak globalisasi yang
memutus batasan wilayah menjadikan para konsumen bebas dalam memilih kualitas
dari produk-produk industri kreatif yang berkualitas dan dengan harga yang
terjangkau. Dengan adanya pelatihan tersebut nantinya para pelaku UMKM di Bali
akan memiliki pengalaman dan wawasan yang lebih dalam mengembangkan industri
kreatifnya tanpa meninggalkan makna dari konsep Tri Hita Karana.
Pusat pemasaran UMKM
juga perlu dibentuk sebagai tempat penjualan dan sosialisasi kepada masyarakat
mengenai keberadaan produk industry kreatif tersebut. Pusat pemasaran ini bisa
dilakukan dengan mengoptimalkan berbagai rangkaian acara yang diselenggarakan
oleh masyarakat Bali, seperti adanya berbagai festival daerah, lomba budaya,
dan pasar-pasar local. Selain pusat pemasaran, pemerintah Bali dalam
mempromosikan hasil UMKM juga harus selalu dioptimalkan. Mengingat teknologi
yang semakin canggih harus dimanfaatkan dengan baik pula dalam meningkatkan
promosi hasil UMKM. Media online dalam membentuk virtual meeting harus benar-benar dimanfaatkan, apalagi Bali
sebagai pulau yang sangat terkenal dengan dunia pariwisatanya. Jadi hasil UMKM
yang dapat dipromosikan bukan hanya diperuntukkan kepada wisatawan domestik
saja, melainkan kepada wisatawan.
Dari berbagai serangkaian
kegiatan G-PKS di atas nantinya akan berdampak positif terhadap keberadaan
industri kreatif yang ada di Bali. Khususnya kerajinan tangan yang menjadi aset
besar dalam menunjang mutu pariwisata di daerah yang selalu menjunjung tinggi keajegan dan adat Bali. Ketika tumpuan
ekonomi masyarakat daerah sudah tertata dengan rapi, maka tidaklah sulit jika
industri kreatif dari masyarakat mampu dengan mudah menembus pasar lokal maupun
internasional. Inilah langkah yang strategis yang harus selalu diterapkan
sebagai persiapan dalam meyongsong Asean
Economic Community. Gerakan Pesta Kesenian ini juga bisa diimplementasikan oleh
daerah-daerah lain sebagai wujud pengembangan industri kreatif. Selama ini
hasil industri kreatif yang berbasis kearifan lokal masih dipandang sebelah
mata oleh masyarakat, karena usaha yang masih berskala mikro dan tidak mampu
bersaing dengan produk-produk luar negeri. Jadi dengan adanya G-PKS pasti akan
sangat membantu potensi indutsri kreatif lokal untuk menduduki kursi kerajaan
dalam pesta AEC nantinya.
0 komentar:
Post a Comment