Wednesday, October 26, 2016

G-PKS : INKUBATOR BISNIS BERBASIS TRI HITA KARANA UNTUK MENGEMBANGKAN INDUSTRI KREATIF BALI MENUJU ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015

Terlahir dari sejarah yang memilukan, membuat orang sadar betapa pentingnya usaha untuk mencapai kesejahteraan. Begitu pun Indonesia, negara yang berabad-abad mengalami penindasan dari penjajah. Berbagai upaya yang terbingkai dalam wujud persatuan dan kesatuan telah mampu membuka gerbang emas bagi bangsa Indonesia. Surga dunia pun telah mampu dimiliki tanpa harus mencari modal awal untuk membeli semua ini. Inilah kekayaan alam yang dimiliki negara dalam lintas khatulistiwa. Negara yang bergerak maju dengan beribu budaya yang nantinya akan mampu berdiri tegap dalam mencapai kehormatan yang telah hilang. Semua harapan ini akan tercapai dengan pasti apabila segenap bangsa selalu bergenggam tangan dalam mempererat persatuan dan kesatuan menghadapi berbagai tantangan yang ada. Melihat keadaan bangsa tercinta ini, bangsa yang kaya dalam bidang sumber daya alam mapun budaya dari masing-masing suku. Selain itu, masyarakat Indonesia yang terkenal dengan kearifan lokalnya menjadikan sebuah aset yang sangat berharga dalam mencapai titik puncak kejayaan. Inilah yang patut dibanggakan oleh kita semua. Kekayaan alam harus diolah semaksimal mungkin, pelestarian budaya harus dijaga sebaik mungkin.
Melihat perkembangan zaman yang semakin dewasa sekarang ini, momentum AEC (Asean Economic Community) 2015 pun sudah mulai kita rasakan di setiap ranah kehidupan. Kebebasan dalam persaingan menjadi tantangan yang harus ditaklukan. Sedetik saja kita tertinggal dalam menghadapi pesta liberalisasi ini, maka lenyap sudah harapan bangsa yang suci. Saya sebagai generasi penerus bangsa sungguh bangga dengan kekayaan bangsa, berbagai budaya mampu menghidupi nyawa bangsa di seluruh tanah air ini. Akan tetapi, melihat keadaan bangsa yang semakin apatis dengan warisan ini sungguh ironis jika bangsa ini mampu menduduki kursi kerajaan dalam pesta AEC nantinya. Salah satu wilayah di Indonesia yang sangat berpotensi dalam menghadapi AEC adalah Bali. Provinsi yang dijuluki negeri seribu pura ini kaya dengan keindahan alam serta budaya lokal yang harus selalu dilestarikan. Kekayaan inilah yang menjadi punggung ekonomi masyarakat Bali, khususnya hasil kerajinan tangan yang menjadi modal besar untuk menarik wisatawan asing maupun domestik di Bali. Sehingga potensi industri kreatif ini perlu diperhatikan dan dikembangkan  agar mampu menembus pasar ASEAN atau bahkan internasional.
Berbicara potensi yang dimiliki oleh masyarakat Bali, terlihat bagaikan gumpalan emas yang kapanpun bisa diambil di saat masyarakat membutuhkan. Akan tetapi persepsi tersebut tidak seperti yang ada di lapangan. Industri kreatif yang berskala mikro ini masih banyak mengalami kendala dalam mengembangkan usahanya lebih luas lagi. Permasalahan ini disebabkan berbagai hal, seperti keadaan perekonomian masyarakat Bali yang masih berkategori menengah ke bawah maupun apresiasi dari pihak yang berkepentingan belum terlalu dirasakan oleh para seniman di Bali. Sehingga semangat jiwa dalam mengembangkan industri kreatif ini mengalami hambatan-hambatan yang membutuhkan solusi nyata. Apabila bercermin dari petuah Bung Karno, “Satu-satunya jalan Indonesia keluar dari kemelut ekonomi ini adalah bekerja lebih keras dengan disiplin yang tinggi”. Selain Bung Karno, Bung Syahrir juga berwasiat, “Untuk memperbaiki perekonomian Indonesia perlu mengamankan konsentrasi kekuasaan ekonomi dan kekuasaan politik”. Kedua wasiat di atas memberikan petunjuk bagi para pengusaha industri kreatif bahwa dalam memperbaiki tatanan ekonomi harus adanya usaha yang lebih keras lagi dan dukungan dari pemerintah dalam mengupayakan dan melindungi usaha kreatif masyarakat yang khsusnya para seniman Bali.
Menurut saya dalam mengatasi persoalan di atas harus ada tindakan yang cepat dan tepat sebagai upaya mengembangkan industri kreatif di Bali. Pariwisata Bali bukan hanya mengandalkan keindahan alamnya, melainkan kekayaan budaya yang masih sangat kental yang selalu terkonsep dalam tri hita karana agama hindu. Jadi solusi yang tepat harus dioptimalkannya budaya lokal yang terangkum dalam G-PKS. G-PKS adalah Gerakan Pesta Kesenian yang melekat pada masyarakat bali yang menjadi langkah awal dalam menghidupi industri kerajinan dari para seniman dan usaha mikro lainnya. Gerakan yang berbasis tri hita karana ini harus dilaksanakan lebih maksimal lagi sebagai upaya penguatan dan keajegan budaya Bali. Gerakan ini pastinya tidak hanya dilakukan oleh para budayawan dan seniman saja, tetapi pemerintah juga berperan penting dalam melaksanakan G-PKS ini. Gerakan ini dirangkai dengan berbagai macam kegiatan yang pastinya meningkatkan potensi produktivitas industri kreatif para budayawan dan seniman dalam menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bali, tidak kalah pentingnya juga mempersiapkan diri bagi pelaku UMKM yang ada di Bali dalam mennyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) nantinya.
G-PKS sebagai wujud budaya Bali dan sekaligus menjadi inkubatos bisnis dalam mengembangkan usaha mikro yang dapat dioptimalkan dalam berbagai langkah kegiatan. Langkah awal yang harus dilakukan dalam melaksanakan G-PKS yakni pemerintah mengadakan seminar, lokakarya inkra Bali. Kegiatan ini bertajuk pengembangan budaya Bali dengan mendatangkan ekonom dan budayawan sebagai narasumber dalam acara ini. Seminar atau lokakarya ini pesertanya para budayawan dan khususnya para seniman Bali agar mereka mendapatkan wawasan dan pengalaman dari narasumber yang professional mengenai langkah-langkah strategis yang harus dilakukan sebagai upaya mengembangkan potensi budaya Bali dalam menghadapi persaingan global. Selain itu seminar atau lokakarya ini juga akan memperkokoh mental masyarakat agar keajegan budaya Bali tidak tergerus oleh globalisasi. Sehingga dengan pelaksanaan seminar dan lokakarya agar supaya para seniman dan budayawan mengetahui berbagai potensi dan tantangan yang harus dihadapi dalam mewujdukan krama bali yang terbingkai dalam prinsip-prinsip ajaran agama hindu.
Rangkaian selanjutnya yakni diadakannya lomba produk unggulan dan pameran hasil usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dihasilkan oleh masyarakat dari masing-masing daerah yang ada di Bali. Kegiatan ini merupakan wujud apresiasi dari pihak pemerintah sebagai sanjungan dan motivasi kepada para pelaku UMKM terhadap hasil karyanya. Dengan adanya kegiatan ini pastinya para pelaku UMKM akan berlomba-lomba menghasilkan produk yang inovatif dan bermutu tinggi untuk memenangkan lomba tersebut. Selain itu, hasil-hasil UMKM yang dihasilkan oleh masyarakat Bali memiliki karakteristi tersendiri. Contohnya kerajinan-kerajinan yang dihasilkan masyarakat Bali lebih terkonsep dengan nilai-nilai ajaran hindunya, seperti gambar dewa, simbol Hyang Widhi Wasa, dan tulisan-tulisan aksara bali. Hal ini dikarenakan produk dari kerajinan masyarakat Bali pasti memiliki makna sakral yang terkonsep dalam tri hita karana sesuai dengan ajaran agama hindu. Hasil kerajinan seperti seni patung, ukiran, lukisan, dan tarian memiliki makna untuk saling menjaga hubungan antara manusia terhadap tuhan, manusia terhadap sesama, dan manusia terhadap lingkungan. Sehingga kerajinan dari para seniman memiliki daya tarik tersendiri yang mampu mengikat para wisatawan untuk memiliki produk tersebut atau sekedar mengeksplorasi pengetahuannya melalui produk industri kerajinan tangan tersebut. Untuk itu perlu diadakannya pameran-pameran yang bersifat terbuka kepada khalayak umum.
Dari serangkaian kegiatan di atas, perlu pula dioptimalkan lembaga keuangan daerah Bali. Secara umumnya, setiap manusia yang melakukan kegiatan bisnis pasti akan membutuhkan modal. Begitupun dengan para pelaku UMKM yang ada di Bali, besar maupun kecil usaha yang dilakukan pasti membutuhkan modal usaha. Dilihat dari sektor usahanya pasti para pelaku UMKM sebagian besar mengalami kekurangan modal. Bali pun sudah dari tahun 1985 telah mendirikan adanya Lembaga Perkreditan Desa (LPD). LPD ini sebagai wujud program dari pemerintah Bali dalam mengembangkan perekonomian masyarakat yang berbasiskan awig-awig karma desa. Mulai dari awal berdiri hanya berjumlah 8 LPD hingga sampai saat ini menjadi 1.356 LPD (Wahyu Adiputra: 2013). Lembaga keuangan daerah ini sangat berbeda dengan lembaga keuangan yang ada secara umumnya, LPD ini juga menjadi karakteristik lembaga keuangan di Bali yang tidak dimiliki oleh daerah lain yang ada di Indonesia. LPD dalam tata kelolanya selalu memperhatikan aturan-aturan atau awig-awig krama desa, hal ini menunjukkan bahwa LPD memang benar-benar bertujuan untuk mengembangkan perekonomian masyarakat di desa tersebut. Kegiatan simpan pinjam juga memiliki karakteristik tersendiri, karena anggota yang bisa melakukan simpan pinjam harus masyarakat desa pakraman setempat. Hasil labanya juga dialokasikan untuk pembangunan desa sebanyak 20%, jadi LPD memang benar-benar memperhatikan perekonomian local dan khususnya dalam mengembangkan potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Maka dari itu, peran LPD harus selalu dioptimalkan sebagai wujud lembaga keuangan yang yang menjadi soko guru perekonomian masyarakat Bali.
Selain dibentukanya lembaga keuangan daerah juga perlu dibentuknya pusat pelatihan pengembangan UMKM. Pusat pelatihan ini berfungsi sebagai media untuk mengimplementasikan pengetahuan masyarakat dalam mengembangkan kerajinan tangan dengan gaya klasik maupun kontemporer. Hal ini diperlukan karena mengingat dampak globalisasi yang memutus batasan wilayah menjadikan para konsumen bebas dalam memilih kualitas dari produk-produk industri kreatif yang berkualitas dan dengan harga yang terjangkau. Dengan adanya pelatihan tersebut nantinya para pelaku UMKM di Bali akan memiliki pengalaman dan wawasan yang lebih dalam mengembangkan industri kreatifnya tanpa meninggalkan makna dari konsep Tri Hita Karana.
Pusat pemasaran UMKM juga perlu dibentuk sebagai tempat penjualan dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keberadaan produk industry kreatif tersebut. Pusat pemasaran ini bisa dilakukan dengan mengoptimalkan berbagai rangkaian acara yang diselenggarakan oleh masyarakat Bali, seperti adanya berbagai festival daerah, lomba budaya, dan pasar-pasar local. Selain pusat pemasaran, pemerintah Bali dalam mempromosikan hasil UMKM juga harus selalu dioptimalkan. Mengingat teknologi yang semakin canggih harus dimanfaatkan dengan baik pula dalam meningkatkan promosi hasil UMKM. Media online dalam membentuk virtual meeting harus benar-benar dimanfaatkan, apalagi Bali sebagai pulau yang sangat terkenal dengan dunia pariwisatanya. Jadi hasil UMKM yang dapat dipromosikan bukan hanya diperuntukkan kepada wisatawan domestik saja, melainkan kepada wisatawan.
Dari berbagai serangkaian kegiatan G-PKS di atas nantinya akan berdampak positif terhadap keberadaan industri kreatif yang ada di Bali. Khususnya kerajinan tangan yang menjadi aset besar dalam menunjang mutu pariwisata di daerah yang selalu menjunjung tinggi keajegan dan adat Bali. Ketika tumpuan ekonomi masyarakat daerah sudah tertata dengan rapi, maka tidaklah sulit jika industri kreatif dari masyarakat mampu dengan mudah menembus pasar lokal maupun internasional. Inilah langkah yang strategis yang harus selalu diterapkan sebagai persiapan dalam meyongsong Asean Economic Community. Gerakan Pesta Kesenian ini juga bisa diimplementasikan oleh daerah-daerah lain sebagai wujud pengembangan industri kreatif. Selama ini hasil industri kreatif yang berbasis kearifan lokal masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat, karena usaha yang masih berskala mikro dan tidak mampu bersaing dengan produk-produk luar negeri. Jadi dengan adanya G-PKS pasti akan sangat membantu potensi indutsri kreatif lokal untuk menduduki kursi kerajaan dalam pesta AEC nantinya.

0 komentar:

Post a Comment