Thursday, June 6, 2013

النّوادر للقليوبى

HIKAYAT 99
“Menerangkan Dermawan dan kikir dalam Suatu Hal yang akan Kembali pada Aslinya”
Orang A’rabi keluar di perjalanan dalam waktu malam hari, sehinnga dia memutuskan untuk mengunngsi, kemudian dia melihat seseorang yang mempunyai tempat untuk menginap untuknnya, dan dia menghampiri ke tempat tersebut.
Pemghuni tempat tersebut adalah seorang wanita, ketika wanita itu melihat orang A’rabi tersebut berkata kepadanya,”Siapakah Kamu,?”. Kemudian orang A’rabi tersebut menjawab,”Saya Tamu”, kemudian wanita itu berkata,”Dan ada tujuan apa kamu bertamu disini,?”. Kemudian wanita tersebut mengambil gandum, lalu dia membuat roti dari gandum itu dan lalu memakannya tanpa dibagi dengan orang A’rabi tersebut.
Dengan waktu yang tidak begitu lama, tiba-tiba datang seorang laki-laki, dan ternyata orang tersebut adalah suami wanita kikir itu, kemudian lelaki itu bertanya kepada orang A’rabi,”Siapakah kamu,?”. Kemudian orang A’rabi tersebut menjawab,”Saya Tamu”. Tanpa waktu senggang yg tak  begitu  lama, lelaki itu menerima kedatangan orang A’rabi tersebut dengan ramah tamah, dan memberikan minum susu kepadanya. Kemudian Suami tersebut bertanya kepada orang A’rabi,”Kamu disini tadi tidak diberi makan oleh istriku,?”. Lalu orang A’rabi tersebut menjawab,”Tidak, demi Allah”. Kemudian suami tersebut masuk ke dalam rumah menemui istrinya dan marah-marah dan sambil berkata,”Kenapa kamu tidak memberikan makanan kepada tamu itu,?”. Lalu sang istri menjawab,”Karena saya tidak merelakan makanan kita diberikan kepada tamu itu”. Sang suami marah dan memukul kepala istrinya sampai berdarah, kemudian sang suami keluar dan meminjam untanya orang A’rabi dan di pinjam untuk disembelihnya, serta sang suami berkata,”Demi Allah, tidak saya bolehkan bila ada tamu saya yang menginap dalam keadaan lapar”. Setelah disembelih dan dimasak untuk tamu tersebut, beliau mengganti unta tersebut dg unta yang lebih bagus dari pada yang disembelih, setelah itu orang A’rabi itu pamitan dg membawa unta yang lebih bagus tersebut sebagai gantinya dan  membawa daging masakan yang masih ada dari untanya yang sebelumnya telah dimasak dan diberi roti oleh sang suami tersebut.
Maka orang A’rabi tersebut pergi dan disuatu malam lagi dia melakukan perjalanan dan dengan situasi dan kondisi tersebut, maka dia terpaksa harus menginap, dan dia melihat ada rumah dan menginap di situ. Sang pemilik rumah (perempuan) berkata,”Sipakah kamu,?”. Kemudian dia menjawab,”Aku adalah tamu”. Kemudian istri tersebut menyambutnya dengan sangat ramah, dan kemudian pergi ke belakang rumah dan mengambil gandum untuk dibuat roti bakar, setelah roti bakar itu jadi diberikan kepada orang A’rabi tersebut dan dengan daging ayam yang lezat, ketika dalam tengah-tengah memakan hidangan itu, tiba-tiba sang suami datang dan bertanya,”Siapakah Kamu,?”. Kemudian dia menjawab,”Aku adalah Tamu”. Kemudian suami itu bertanya lagi untuk apa tamu itu datang ke rumahku dan kemudian masuk ke rumah dan bertanya kepada sang istri,”Dimanakah makananku,?”. Kemudian sang istri menjawab,”Makanan kita telah saya suguhkan ke tamu tersebut”. Lalu suami tersebut berkata sambil  dengan suasana marah,”Siapa yang menyuruh kamu untuk memberikan makanan kita kepada tamu itu,?”. Dengan marah-marah suami tersebut memukul kepala sang istri hingga berdarah. Kemudian orang A’rabi tersebut bergumam sendiri melihat keanehan rumah tangga tersebut, melihat tingkah orang A’rabi begitu, maka suami tersebut bertanya,”Apa yang kamu tertawakan,?”. Orang A’rabi menceritakan kisah yang dialaminya kemarin, sebab kejadiannya sama persis, yang membedakan kalau kemarin yang kikir itu istrinya, tapi suaminya dermawan, akan tetapi keluargamu kebalikannya, istrimu dermawati, tapi kamu kikir, mendengar cerita tersebut, sang suami menceritakan kalau istri yang ditemui orang A’rabi kemarin itu adalah saudara kandungnya, dan suami kemarin itu saudara istriku.
Hikmah dari cerita tersebut :
1.      Orang mempunyai sifat dan berbuat seperti itu dominan besar sebab silsilahnya ada yang seperti itu.

2.      Jika nasabnya baik, maka insya Allah keturunannya juga baik, akan tetapin jika nasabnya kurang baik, mungkin keturunannya juga akan seperti itu. 

0 komentar:

Post a Comment