Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan generasi yang
berkualitas. Pendidikan dalam arti sempit adalah sekolah atau madrasah. Sekolah
atau madrasah merupakan lembaga pendidikan formal dengan sistem pelaksanaannya
terdapat guru dan peserta didik. Menurut Febriyanti (2021), seorang guru harus
mampu mengimplementasikan pedoman dari Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sung
tulodo (di depan memberikan contoh), ing madyo mangun karso (di tengah membangun
dan memberi semangat), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).
Tujuan dari pendidikan untuk membangun sumber daya manusia yang memanusiakan
manusia. Maksud dari tujuan tersebut adalah membentuk karakter manusia yang
menghormati dan toleransi kepada orang lain seperti yang diharapkan pada dirinya
sendiri.
Peran pendidikan dalam mewujudkan generasi yang berkarakter hingga saat
ini masih mendapatkan tantangan. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan
sehari-hari, media sosial masih banyak yang menayangkan kasus penyimpangan
sosial seperti tawuran, intoleransi, penyalahgunaan narkoba, minuman keras,
bahkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh generasi muda. Sehingga masyarakat
menilai bahwa pendidikan saat ini belum mampu memberikan pengalaman yang
bermakna untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan dalam proses
pembelajarannya dilaksanakan di dalam kelas dan di luar kelas. Pendidikan di
dalam kelas melalui proses pembelajaran yang terstruktur berdasarkan kurikulum.
Sedangkan pendidikan di luar kelas lebih menekankan proses implementasi
nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan di luar kelas yang
sering dilaksanakan adalah pendidikan kepramukaan. Menurut Lukman (2024),
pendidikan kepramukaan atau pendidikan kepanduan merupakan proses pendidikan
yang praktis dilakukan di alam terbuka dalam bentuk kegiatan yang menarik,
menantang, menyenangkan, sehat, teratur, dan terarah dengan tujuan terbentuknya
watak kepribadian dan akhlak mulia.
Proses pendidikan kepramukaan berpegang
teguh pada kode kehormatan pramuka yang terdiri dari tri satya dan dasa dharma.
Kode kehormatan ini harus dipegang teguh oleh peserta didik. Tri satya bermakna
3 (tiga) janji yang harus ditepati dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan dasa
dharma bermakna 10 (sepuluh) kebajikan yang menjadi tuntutan moral dan pedoman
dalam berperilaku. Apabila ditinjau dari sisi kebangsaan, kode kehormatan
pramuka selaras dengan nilai-nilai pancasila. Sedangkan ditinjau dari sisi
keagamaan berjalan lurus dengan ajaran agama yang mengajarkan ketaqwaan dan
toleransi.
Pendidikan kepramukaan dalam membangun karakter peserta didik yang
unggul dan moderat mengalami pasang surut. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi di antaranya adalah, 1) pendidikan kepramukaan model blok dan
reguler dalam prakteknya tidak diwajibkan bagi lembaga pendidikan dan peserta
didik, 2) pola pikir anggota tentang pendidikan kepramukaan belum secara
komprehensif, 3) pelaksanaan kegiatan kepramukaan yang masih bersifat
seremonial, dan 4) belum memperhatikan skala prioritas kebutuhan terhadap
lingkungan sekitar.
Evaluasi peran pendidikan kepramukaan terhadap masalah
sosial yang terjadi saat ini perlu disikapi dengan cakap dan bijak.
Internalisasi nilai-nilai kepramukaan perlu ditingkatkan untuk membangun
berkarakter yang unggul dan moderat. Bentuk internalisasi nilai-nilai pendidikan
kepramukaan di antaranya adalah, 1) pendidikan kepramukaan model blok dan
reguler diwajibkan kembali sebagai bagian dari pembangunan karakter, 2)
doktrinasi nilai-nilai kode kehormatan pramuka berbasis nilai-nilai keagamaan,
dan 3) kreativitas kegiatan pramuka dengan pendekatan kebutuhan dan budaya
lingkungan sekitar.
Pertama, reposisi pendidikan kepramukaan model blok dan
reguler diwajibkan kembali di setiap lembaga pendidikan. Permendikbutristek
Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang
Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah memaparkan bahwa pendidikan
kepramukaan model blok yang sebelumnya mewajibkan perkemahan menjadi tidak
wajib. Pendidikan kepramukaan model blok merupakan kegiatan penting dalam bentuk
perkemahan yang menjadi ajang pertemuan semua anggota. Pada saat pelaksanaan
perkemahan akan terjalin hubungan sosial antarpeserta didik dengan latar
belakang yang beragam. Melalui kegiatan perkemahan karakter peserta didik akan
terbentuk mulai dari sikap mandiri, disiplin, bertanggung jawab, toleransi, dan
cinta alam.
Kedua, doktrinasi nilai-nilai kode kehormatan pramuka berbasis
nilai-nilai keagamaan. Sistem among dalam proses pendidikan kepramukaan perlu
dikorelasikan dengan nilai-nilai keagamaan yang diyakini oleh masing-masing
peserta didik. Karakter peserta didik berasal dari hasil pemikiran dan
perasaannya. Hasil pemikiran dan perasaan berdasarkan nilai-nilai ajaran agama
yang diyakininya. Oleh karena itu, peserta didik dalam berperilaku akan
menjalankannya dengan sepenuh hati sebagai wujud amal ibadah. Konsep ini yang
perlu ditanamkan pada jiwa anggota pramuka, supaya dalam berperilaku selalu
dikaitkan dengan tugas sebagai seorang hamba terhadap tuhan.
Kode kehormatan
pramuka sebagai kunci pembangunan karakter yang unggul dan moderat dalam gerakan
pramuka. Karakter unggul yang dimaksud di antaranya adalah, 1) memiliki
kepribadian yang sesuai dengan norma di masyarakat, 2) memiliki pengetahuan yang
luas dan keterampilan yang cakap, dan 3) terbentuknya mental leadership terhadap
diri sendiri dan orang lain. Sedangkan karakter moderat menurut Tazul (2015)
adalah, 1) sikap kebaikan terhadap sesama makhluk yang ada di bumi, 2) adaptasi
dan toleransi terhadap lingkungan sekitar dan perubahan yang terjadi, 3)
kesediaan kerjasama dalam konteks kebaikan tanpa melihat latar belakang orang
lain, dan 4) fokus membawa atribut ideologis keagaman yang tidak ekstrem.
Nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan pramuka sejalan dengan
nilai-nilai keagamaan. Misalnya dalam konteks ajaran agama islam, tri satya dan
dasa dharma yang pertama mengajak peserta didik untuk bertaqwa kepada Allah.
Nilai ini di tempatkan yang paling awal sebagai bukti bahwa pendidikan
kepramukaan menjunjung tinggi nilai ketuhanan. Tri satya dan dasa dharma yang
kedua mengajarkan peserta didik untuk mencintai, menolong, menghormati, dan
toleransi terhadap sesama makhluk. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik harus
memiliki jiwa penolong dan toleran setelah nilai ketaqwaan. Begitupun dengan
nilai-nilai kode kehormatan yang lainnya dalam membangun karakter yang
memanusiakan manusia.
Ketiga, kreativitas kegiatan kepramukaan dengan pendekatan
kebutuhan dan budaya lingkungan sekitar. Kegiatan kepramukaan disesuaikan dengan
budaya lokal dan tidak menyimpang dengan norma yang berlaku. Apa yang menjadi
skala prioritas kebutuhan dari lingkungan sekitar seyogyanya peserta didik dapat
mengambil peran di dalam kegiatan tersebut. Dengan harapan lingkungan sekitar
merasakan keberadaan anggota pramuka, karena persepsi masyarakat tentang
kegiatan kepramukaan lebih cenderung kegiatan seremonial yang berdasarkan
program kerja semata.
Dari uraian di atas, penulis menekankan bahwa kegiatan
moderasi beragama memiliki visi yang sangat penting dalam membangun peradaban
umat, sehingga sikap moderat perlu dibangun sejak dini melalui proses
pendidikan. Salah satunya adalah pendidikan kepramukaan yang berpegang teguh
dengan kode kehormatan pramuka tri satya dan dasa dharma. Kode kehormatan
pramuka tidak hanya sebatas pengetahuan, melainkan pedoman dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian, di setiap kegiatan kepramukaan akan mengajarkan
kepada anggota sikap tanggung jawab dan toleransi terhadap sesama, serta
memberikan manfaat terhadap lingkungan sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
Febriyanti, N. 2021. Implementasi Konsep Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5 (1), 1631–1638.
Islam, Tazul. “Islamic Moderation” in Perspectives: A Comparison Between Oriental and Occidental Scholarships, International Journal of Nusantara Islam, Vol. 03 No.02-2015, 69–78.
Santoso Az, Lukman. 2014. Panduan Terlengkap Pramuka. Jogjakarta: Buku Biru.
Sudiarja, A., dkk. 2006. Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Jakarta: Gramedia.
0 komentar:
Post a Comment