Friday, December 13, 2024

INTERNALISASI PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN DENGAN PENDEKATAN SOSIO-RELIGIUS DALAM MEMBANGUN KARAKTER YANG MODERAT

         Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan generasi yang berkualitas. Pendidikan dalam arti sempit adalah sekolah atau madrasah. Sekolah atau madrasah merupakan lembaga pendidikan formal dengan sistem pelaksanaannya terdapat guru dan peserta didik. Menurut Febriyanti (2021), seorang guru harus mampu mengimplementasikan pedoman dari Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan contoh), ing madyo mangun karso (di tengah membangun dan memberi semangat), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Tujuan dari pendidikan untuk membangun sumber daya manusia yang memanusiakan manusia. Maksud dari tujuan tersebut adalah membentuk karakter manusia yang menghormati dan toleransi kepada orang lain seperti yang diharapkan pada dirinya sendiri. 
        Peran pendidikan dalam mewujudkan generasi yang berkarakter hingga saat ini masih mendapatkan tantangan. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, media sosial masih banyak yang menayangkan kasus penyimpangan sosial seperti tawuran, intoleransi, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, bahkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh generasi muda. Sehingga masyarakat menilai bahwa pendidikan saat ini belum mampu memberikan pengalaman yang bermakna untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 
        Pendidikan dalam proses pembelajarannya dilaksanakan di dalam kelas dan di luar kelas. Pendidikan di dalam kelas melalui proses pembelajaran yang terstruktur berdasarkan kurikulum. Sedangkan pendidikan di luar kelas lebih menekankan proses implementasi nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan di luar kelas yang sering dilaksanakan adalah pendidikan kepramukaan. Menurut Lukman (2024), pendidikan kepramukaan atau pendidikan kepanduan merupakan proses pendidikan yang praktis dilakukan di alam terbuka dalam bentuk kegiatan yang menarik, menantang, menyenangkan, sehat, teratur, dan terarah dengan tujuan terbentuknya watak kepribadian dan akhlak mulia. 
          Proses pendidikan kepramukaan berpegang teguh pada kode kehormatan pramuka yang terdiri dari tri satya dan dasa dharma. Kode kehormatan ini harus dipegang teguh oleh peserta didik. Tri satya bermakna 3 (tiga) janji yang harus ditepati dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan dasa dharma bermakna 10 (sepuluh) kebajikan yang menjadi tuntutan moral dan pedoman dalam berperilaku. Apabila ditinjau dari sisi kebangsaan, kode kehormatan pramuka selaras dengan nilai-nilai pancasila. Sedangkan ditinjau dari sisi keagamaan berjalan lurus dengan ajaran agama yang mengajarkan ketaqwaan dan toleransi. 
        Pendidikan kepramukaan dalam membangun karakter peserta didik yang unggul dan moderat mengalami pasang surut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah, 1) pendidikan kepramukaan model blok dan reguler dalam prakteknya tidak diwajibkan bagi lembaga pendidikan dan peserta didik, 2) pola pikir anggota tentang pendidikan kepramukaan belum secara komprehensif, 3) pelaksanaan kegiatan kepramukaan yang masih bersifat seremonial, dan 4) belum memperhatikan skala prioritas kebutuhan terhadap lingkungan sekitar. 
        Evaluasi peran pendidikan kepramukaan terhadap masalah sosial yang terjadi saat ini perlu disikapi dengan cakap dan bijak. Internalisasi nilai-nilai kepramukaan perlu ditingkatkan untuk membangun berkarakter yang unggul dan moderat. Bentuk internalisasi nilai-nilai pendidikan kepramukaan di antaranya adalah, 1) pendidikan kepramukaan model blok dan reguler diwajibkan kembali sebagai bagian dari pembangunan karakter, 2) doktrinasi nilai-nilai kode kehormatan pramuka berbasis nilai-nilai keagamaan, dan 3) kreativitas kegiatan pramuka dengan pendekatan kebutuhan dan budaya lingkungan sekitar. 
        Pertama, reposisi pendidikan kepramukaan model blok dan reguler diwajibkan kembali di setiap lembaga pendidikan. Permendikbutristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah memaparkan bahwa pendidikan kepramukaan model blok yang sebelumnya mewajibkan perkemahan menjadi tidak wajib. Pendidikan kepramukaan model blok merupakan kegiatan penting dalam bentuk perkemahan yang menjadi ajang pertemuan semua anggota. Pada saat pelaksanaan perkemahan akan terjalin hubungan sosial antarpeserta didik dengan latar belakang yang beragam. Melalui kegiatan perkemahan karakter peserta didik akan terbentuk mulai dari sikap mandiri, disiplin, bertanggung jawab, toleransi, dan cinta alam. 
          Kedua, doktrinasi nilai-nilai kode kehormatan pramuka berbasis nilai-nilai keagamaan. Sistem among dalam proses pendidikan kepramukaan perlu dikorelasikan dengan nilai-nilai keagamaan yang diyakini oleh masing-masing peserta didik. Karakter peserta didik berasal dari hasil pemikiran dan perasaannya. Hasil pemikiran dan perasaan berdasarkan nilai-nilai ajaran agama yang diyakininya. Oleh karena itu, peserta didik dalam berperilaku akan menjalankannya dengan sepenuh hati sebagai wujud amal ibadah. Konsep ini yang perlu ditanamkan pada jiwa anggota pramuka, supaya dalam berperilaku selalu dikaitkan dengan tugas sebagai seorang hamba terhadap tuhan. 
        Kode kehormatan pramuka sebagai kunci pembangunan karakter yang unggul dan moderat dalam gerakan pramuka. Karakter unggul yang dimaksud di antaranya adalah, 1) memiliki kepribadian yang sesuai dengan norma di masyarakat, 2) memiliki pengetahuan yang luas dan keterampilan yang cakap, dan 3) terbentuknya mental leadership terhadap diri sendiri dan orang lain. Sedangkan karakter moderat menurut Tazul (2015) adalah, 1) sikap kebaikan terhadap sesama makhluk yang ada di bumi, 2) adaptasi dan toleransi terhadap lingkungan sekitar dan perubahan yang terjadi, 3) kesediaan kerjasama dalam konteks kebaikan tanpa melihat latar belakang orang lain, dan 4) fokus membawa atribut ideologis keagaman yang tidak ekstrem. 
        Nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan pramuka sejalan dengan nilai-nilai keagamaan. Misalnya dalam konteks ajaran agama islam, tri satya dan dasa dharma yang pertama mengajak peserta didik untuk bertaqwa kepada Allah. Nilai ini di tempatkan yang paling awal sebagai bukti bahwa pendidikan kepramukaan menjunjung tinggi nilai ketuhanan. Tri satya dan dasa dharma yang kedua mengajarkan peserta didik untuk mencintai, menolong, menghormati, dan toleransi terhadap sesama makhluk. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik harus memiliki jiwa penolong dan toleran setelah nilai ketaqwaan. Begitupun dengan nilai-nilai kode kehormatan yang lainnya dalam membangun karakter yang memanusiakan manusia. 
        Ketiga, kreativitas kegiatan kepramukaan dengan pendekatan kebutuhan dan budaya lingkungan sekitar. Kegiatan kepramukaan disesuaikan dengan budaya lokal dan tidak menyimpang dengan norma yang berlaku. Apa yang menjadi skala prioritas kebutuhan dari lingkungan sekitar seyogyanya peserta didik dapat mengambil peran di dalam kegiatan tersebut. Dengan harapan lingkungan sekitar merasakan keberadaan anggota pramuka, karena persepsi masyarakat tentang kegiatan kepramukaan lebih cenderung kegiatan seremonial yang berdasarkan program kerja semata. 
            Dari uraian di atas, penulis menekankan bahwa kegiatan moderasi beragama memiliki visi yang sangat penting dalam membangun peradaban umat, sehingga sikap moderat perlu dibangun sejak dini melalui proses pendidikan. Salah satunya adalah pendidikan kepramukaan yang berpegang teguh dengan kode kehormatan pramuka tri satya dan dasa dharma. Kode kehormatan pramuka tidak hanya sebatas pengetahuan, melainkan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, di setiap kegiatan kepramukaan akan mengajarkan kepada anggota sikap tanggung jawab dan toleransi terhadap sesama, serta memberikan manfaat terhadap lingkungan sekitar.


DAFTAR PUSTAKA

Febriyanti, N. 2021. Implementasi Konsep Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Jurnal Pendidikan             Tambusai, 5 (1), 1631–1638.
Islam, Tazul. “Islamic Moderation” in Perspectives: A Comparison Between Oriental and Occidental                 Scholarships, International Journal of Nusantara Islam, Vol. 03 No.02-2015, 69–78.
Santoso Az, Lukman. 2014. Panduan Terlengkap Pramuka. Jogjakarta: Buku Biru.
Sudiarja, A., dkk. 2006. Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh                     dalam Perjuangan Bangsanya. Jakarta: Gramedia.

0 komentar:

Post a Comment