Wednesday, September 14, 2016

PEMIMPIN IDEAL DI INDONESIA : HANYA ADA DALAM TULISAN YANG SUBYEKTIF

Negara Indonesia sebagai negara maritim menyebabkan Indonesia menjadi negara yang majemuk. Negara multikultural yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan, hal ini telah terwujud di dalam salah satu pilar kebangsaan Indonesia, yakni Bhineka Tunggal Ika. Jadi, dengan beraneka ragam suku, budaya, bahasa, dan tradisi justru menjadkan bangsa Indonesia saling bersatu dalam mewujudkan kebhinekaan yang sangat tinggi di masing-masing individu. Dengan adanya perbedaan di masing-masing daerah, hal ini juga menyebabkan adanya perbedaan dalam tata kelola pemerintahan di masing-masing daerah. Meski secara keseluruhan masyarakat Indonesia menganut sistem demokrasi pancasila, tetapi dalam kenyataannya tidak semua masyarakat mengetahui dan dapat mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila yang terkandu di setiap silanya.
Berbicara mengenai kepemimpinan, Indonesia yang terdiri dari 34 provinsi dan ratusan kabupaten atau kota menjadikan Indonesia hampir di setiap tahunnya melakukan pemilihan kepala daerah sebagai wujud pesta demokrasi bagi rakyat. Dalam pemlihan daerah dipilih langsung oleh rakyat yang memiliki hak suara sesuai dengan ketentuan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Wujud demokrasi memang sudah sangat dirasakan oleh lapisan masyarakat secara menyeluruh, tetapi apakah masyarakat Indonesia mengetahui indikator-indikator pemimpin yang ideal untuk memimpin daerahnya? Sebelum menjawab indikator-indikator pemimpin ideal, saya akan mengulas terlebih dahulu keadaan mengenai pendidikan politik yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Pemilihan kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat memang sangat baik, karena menjunjung tinggi hak asasi manusia untuk memilih wakil rakyatnya. Apalagi Indonesia menganut sistem demokrasi pancasila yang berasaskan Trias Politika, jadi memang harus dari, oleh, dan untuk rakyat. Akan tetapi apakah data di lapangan seperti yang diharapkan? Kita sendiri yang bisa melihat secara langsung mengenai pertanyaan tersebut. Kondisi masyarakat Indonesia dan khsusunya yang memiliki hak pilih belum mengerti betul mengenai sistem demokrasi, sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat Indonesia masih acuh tak acuh dengan sistem perpolitikan yang dijalani saat ini. Ditambah lagi pihak pemerintah dalam memberikan edukasi tentang ilmu politik kepada masyarakat dan khususnya yang berpendidikan rendah sangat belum dirasakan.
Contoh kecilnya bisa dilihat pada saat menjelang adanya pemilukada di masing-masing daerah. Berbagai lapisan masyarakat akan mulai mengkotak-kotakan dirinya, misalnya ada yang menjadi tim sukses dari salah satu calon, ada yang bersifat bijak dalam memilih pemimpin, ada yang berprinsip siapa yang memberi saku itulah pemimpin yang baik, dan bahkan ada yang golput dengan alasan pemimpin semuanya tidak ada yang baik. Lalu, bagaimana dampak dari mengkotak-kotakkan diri dalam pemilukada? Sangat jelas akan berdampak negatif bagi masyarakat lainnya, karena pemilukada bersifat sangat sistemik. Misalnya bagi para tim sukses akan mengajak seluruh keluarga, saudara, sahabat, rekan kerja, dan teman dekat lainnya untuk memilih calon pemimpin yang didukungnya. Selain itu, bagi masyarakat yang berpendidikan rendah atau bahkan buta huruf akan memilih calon yang memberikan saku, karena menurut mereka waktu 1 (satu) hari kerja telah dihabiskan untuk memilih satu orang calon pemimpin, sehingga harus ada uang ganti. Ditambah lagi bagi masyarakat yang berprinsip golput yang dikarenakan sudah tidak ada rasa kepercayaan lagi kepada pemerintah, karena banyak sekali sekarang kasus-kasus pemerintah yang berhubungan dengan tindakan korupsi. Inilah polemik yang tidak pernah terselesaikan, bahkan untuk mewujudkan pemimpin ideal itu bersifat subyektif atau tergantung dari masing-masing individu.
Terlepas dari masalah yang sangat polemik di atas, pemerintah selaku wakil rakyat harus melakukan terobosan terlebih dahulu untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat secara luas. salah satunya peningkatan sosialisasi mengenai pemilihan kepala daerah di masing-masing kecamatan atau desa, karena selama ini sosialisasi hanya dalam bentuk tulisan spanduk yang dipasang di depan kantor kecamatan atau desa. Padahal objek pembacanya yakni masyarakat yang kebanyakan pendidikan yang rendah dan bahkan buta huruf. Jadi, dalam pemberian materi tentang sistem politik khsusunya pemilukada harus dilakukan secara intensif supaya bisa dirasakan oleh masyarakat dari lapisan atas sampai bawah. Dengan demikian, apabila seluruh lapisan masyarakat sudah memiliki wawasan yang luas dalam bidang politik, maka akan lebih mudah dalam merumuskan pemimpin ideal yang dijadikan sebagai panutan dan wakil rakyat.
Indikator pemimpin ideal secara umumnya ada empat, yakni menyampaikan amanat, jujur, pintar, dan dapat dipercaya. Akan tetapi, sampai saat ini sangat sulit untuk mencari calon pemimpin yang memenuhi kriteria di atas. Apalagi ditambah dengan persyaratan calon pemimpin daerah harus berasal dari salah satu anggota atau diusulkan oleh partai politik, sehingga calon pemimpin saat ini tidak ada yang murni mencalonkan dirinya karena amanat untuk menjadi wakil rakyat dan memajukan daerahnya. Oleh karena itu, pemimpin yang ideal di Indonesia masih bersifat dalam tulisan yang subyektif di setiap kalangan masyarakat.


Kata Kunci : Pemimpin Ideal Untuk Daerah